Ikuti Kami

Soepratman, Amir, dan Mereka yang Menjahit Persatuan

Nasionalisme tidak selalu lahir dari podium politik; terkadang ia tumbuh dari seni yang mampu menyentuh perasaan

Soepratman, Amir, dan Mereka yang Menjahit Persatuan
WR Supratman - Foto: Detik.com

MALAM 28 Oktober 1928 menyimpan sebuah adegan yang sulit dilupakan. Di tengah suasana Kongres Pemuda II, sebuah biola dimainkan dan untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan di hadapan para peserta.

Yang menggesek biola itu adalah Wage Rudolf Soepratman. Ia tidak membawa pidato panjang, tidak berdiri sebagai pemimpin organisasi, dan tidak memegang jabatan dalam kepanitiaan kongres.

Namun, beberapa menit permainan biolanya mampu mengubah suasana ruangan. Musik tiba-tiba menjadi bahasa yang menyatukan perasaan para pemuda yang datang dari berbagai organisasi dan latar daerah.

Museum Sumpah Pemuda mencatat, lagu Indonesia Raya diperdengarkan W.R. Soepratman sebelum pembacaan putusan Kongres Pemuda II. Para peserta bahkan meminta lagu tersebut dimainkan kembali, tetapi Soepratman hanya memperdengarkannya sekali. Muspada

Adegan itu memperlihatkan sesuatu yang penting dalam perjalanan bangsa. Nasionalisme tidak selalu lahir dari podium politik; terkadang ia tumbuh dari seni yang mampu menyentuh perasaan sebelum pikiran sempat menyusun argumen.

Tetapi Kongres Pemuda II bukan hanya tentang momen yang terlihat oleh publik. Di balik panggung sejarah tersebut terdapat kerja organisasi, pengelolaan sumber daya, perdebatan, serta kemampuan para pemuda menemukan titik temu.

Salah satu tokohnya adalah Amir Sjarifuddin. Ia dipercaya menjadi bendahara panitia Kongres Pemuda II, mewakili Jong Bataks Bond, bersama Soegondo Djojopuspito sebagai ketua dan Mohammad Yamin sebagai sekretaris. Muspada

Posisi bendahara mungkin terdengar sederhana dibandingkan pidato atau pembacaan ikrar. Namun, sebuah kongres tidak mungkin berjalan hanya dengan gagasan; diperlukan orang-orang yang mengurus kebutuhan nyata agar gagasan tersebut dapat bertemu dalam satu ruangan.

Amir adalah bagian dari generasi muda yang hidup dalam suasana pergerakan politik yang semakin matang. Ia pernah menjadi penghuni Gedung Kramat 106 bersama sejumlah pelajar lain, termasuk Muhammad Yamin, dan gedung itu kemudian menjadi salah satu pusat aktivitas pergerakan pemuda. Muspada

Gedung Kramat 106 sendiri memperlihatkan bahwa sejarah besar sering bermula dari ruang yang tampak biasa. Sejak 1927, tempat milik Sie Kong Lian itu digunakan berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk berdiskusi dan menjalankan aktivitas mereka.

Di sanalah para pemuda bertemu, bertukar pikiran, dan membangun jaringan. Gedung tersebut bahkan menjadi sekretariat PPPI serta tempat berbagai organisasi pemuda menjalankan kegiatan sebelum Kongres Pemuda II berlangsung. Muspada

Dengan demikian, Sumpah Pemuda sebetulnya bukan keajaiban yang muncul dalam dua hari. Sebelum kongres digelar, para pemuda sudah melakukan pertemuan pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928 untuk membicarakan panitia, tempat, acara, waktu, dan pembiayaan. Muspada

Di sinilah kita menemukan sisi lain dari nasionalisme. Persatuan ternyata membutuhkan pekerjaan yang tidak selalu heroik: membuat jadwal, mencari tempat, mengatur pembiayaan, menyusun acara, mendengarkan pendapat, lalu berkompromi.

Kongres Pemuda II kemudian berlangsung dalam tiga rapat di tiga tempat berbeda. Rapat pertama di Katholieke Jongenlingen Bond membicarakan persatuan dan kebangsaan; rapat kedua di Oost-Java Bioscoop membahas pendidikan; sedangkan rapat ketiga di Indonesische Clubgebouw membicarakan kepanduan, nasionalisme, dan perumusan keputusan kongres. Muspada

Menariknya, rumusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda tidak lahir dari satu pidato tunggal. Setelah mendengarkan berbagai pandangan, Mohammad Yamin merumuskan keputusan kongres, kemudian Soegondo Djojopoespito membacakannya di hadapan peserta.

Tiga kalimat itu mengubah cakrawala identitas: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Sebuah gagasan yang sebelumnya terasa jauh perlahan menjadi kesepakatan politik dan kebangsaan. Muspada

Di titik inilah W.R. Soepratman dan Amir Sjarifuddin dapat ditempatkan dalam satu cerita. Soepratman menyentuh ruang batin melalui musik, sedangkan Amir menjadi bagian dari kerja organisasi yang memungkinkan pertemuan dan proses politik itu berlangsung.

Keduanya menunjukkan bahwa perjuangan membutuhkan banyak jenis keberanian. Ada keberanian menciptakan karya, keberanian mengelola organisasi, keberanian menyampaikan pendapat, dan keberanian menerima perbedaan demi tujuan yang lebih besar.

Pelajaran itu terasa sangat relevan bagi generasi muda hari ini. Di tengah demokrasi elektoral dan derasnya arus media sosial, perbedaan pilihan politik seharusnya tidak berubah menjadi permusuhan yang menghilangkan rasa sebangsa.

Para pemuda 1928 juga memiliki perbedaan organisasi dan pandangan. Namun, mereka mampu menempatkan kepentingan persatuan lebih tinggi daripada identitas kelompok, sehingga perbedaan tidak menjadi alasan untuk berhenti berdialog.

Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda tidak cukup dengan mengulang tiga kalimat ikrar. Kita juga perlu belajar dari proses di belakangnya: bagaimana sebuah generasi mengelola perbedaan, membangun kepercayaan, bekerja bersama, dan akhirnya menemukan kesepakatan.

Indonesia Raya mengajarkan bahwa nasionalisme membutuhkan rasa. Amir Sjarifuddin dan para pengurus kongres mengingatkan bahwa rasa itu harus diterjemahkan menjadi kerja. Sementara proses perumusan Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan membutuhkan dialog dan kesediaan berkompromi.

Bagi Gen Z, cinta tanah air dengan demikian bukan sekadar simbol, unggahan, atau slogan. Ia dapat diwujudkan dengan memilih secara sadar, berbeda secara bermartabat, berdebat tanpa merendahkan, dan tetap menjaga persaudaraan setelah kontestasi politik selesai.

Sebab Indonesia dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu sepakat. Indonesia dibangun oleh generasi yang berbeda-beda tetapi bersedia mencari titik temu—dan itulah salah satu warisan paling berharga dari Kongres Pemuda II 1928.

Quote