PADA suatu malam, anak-anak muda berkumpul membawa kegelisahan masing-masing. Mereka belum memiliki Indonesia, tetapi mulai membayangkannya bersama.
Kongres Pemuda II menjadi ruang penting untuk mempertemukan gagasan. Di sana, perbedaan justru menjadi modal menyusun persatuan.
Sugondo Djojopuspito berdiri sebagai ketua dengan ketenangan seorang pemimpin. Ia mengawal persidangan agar perbedaan tidak berubah menjadi pertentangan.
Tidak semua gagasan mudah diterima dalam ruang penuh perbedaan. Namun Sugondo memahami, persatuan membutuhkan kesabaran sekaligus keberanian.
Di tengah dinamika kongres, Mohammad Yamin memainkan peran penting. Ia membantu merumuskan gagasan kebangsaan melalui bahasa yang sederhana.