Jakarta, Gesuri.id - Dunia Pergerakan Indonesia tahun 1927 berada pada titik nadir Pasca gagalnya perlawanan 1926, Belanda tidak lagi hanya menindas dengan bedil, melainkan dengan hegemoni (Gramsci) melalui politik etis, meraka membangun consensus bahwa rakyat pribumi adalah bangsa yang lemah dan butuh bimbingan.
Hal tersebut dalam Bahasa Franzt Fanon disebut Psikoanalis Kolonial, di mana rakyat mengalami Mental Minder akut dan memuja Kolonial Belanda secara berlebihan. Akhirnya rakyat terjebak dalam kesadaran Magis kata Paulo Freire menganggap kemiskinan sebagai takdir dan menandang penajajah sebagai dewa penolong.
Kondisi sosiologis saat itu memperlihatkan karakter rakyat yang pasif, munafik dan senang dipuja, sebagaimana kritik tajam dari Mochtar Lubis terhadap mentalitas manusia Indonesia.
Akibatnya imaginasi tentang rasa Satu Bangsa sulit terbentuk karena rakyat kehilangan kepercayaan pada kekuatannya sendiri. Zahirnya mereka hidup dalam alienasi atau keterasingan di tanah tumpah darahnya sendiri, tanpa identitas politik yang tegas, dan hanya menjadi obyek dalam system birokrasi kolonial yang menghisab lalu membunuh perlahan.
Bung Karno mampu menangkap suasana kebatinan jiwa rakyat kala itu lebih-lebih gagalnya dalam perlawanan tersebut (1926) zahirnya dalam kontemplasinya ia menemukan Langkah revolusi Indonesia, revolusi hanya akan bisa dicapai Ketika jiwa-jiwa Inlander ini dihapuskan lahirlah kesadaran operasi bedah saraf massal demi mengembalikan jiwa-jiwa yang telah tersandera oleh Belanda.