Ikuti Kami

Dialektika Trilogi PNI Sebagai Arsitektur Pembebasan Kaum Marhaen

Oleh: Shohibul Kafi, S.Fil, Kader Muda PDI Perjuangan.

Dialektika Trilogi PNI Sebagai Arsitektur Pembebasan Kaum Marhaen
Shohibul Kafi, S.Fil, Kader Muda PDI Perjuangan.

Jakarta, Gesuri.id - Dunia Pergerakan Indonesia tahun 1927 berada pada titik nadir Pasca gagalnya perlawanan 1926, Belanda tidak lagi hanya menindas dengan bedil, melainkan dengan hegemoni (Gramsci) melalui politik etis, meraka membangun consensus bahwa rakyat pribumi adalah bangsa yang lemah dan butuh bimbingan. 

Hal tersebut dalam Bahasa Franzt Fanon disebut Psikoanalis Kolonial, di mana rakyat mengalami Mental Minder akut dan memuja Kolonial Belanda secara berlebihan. Akhirnya rakyat terjebak dalam kesadaran Magis kata Paulo Freire menganggap kemiskinan sebagai takdir dan menandang penajajah sebagai dewa penolong. 

Kondisi sosiologis saat itu memperlihatkan karakter rakyat yang pasif, munafik dan senang dipuja, sebagaimana kritik tajam dari Mochtar Lubis terhadap mentalitas manusia Indonesia. 

Akibatnya imaginasi tentang rasa “Satu Bangsa” sulit terbentuk karena rakyat kehilangan kepercayaan pada kekuatannya sendiri. Zahirnya mereka hidup dalam alienasi atau keterasingan di tanah tumpah darahnya sendiri, tanpa identitas politik yang tegas, dan hanya menjadi obyek dalam system birokrasi kolonial yang menghisab lalu membunuh perlahan. 

Bung Karno mampu menangkap suasana kebatinan jiwa rakyat kala itu lebih-lebih gagalnya dalam perlawanan tersebut (1926) zahirnya dalam kontemplasinya ia menemukan Langkah revolusi Indonesia, revolusi hanya akan bisa dicapai Ketika jiwa-jiwa Inlander ini dihapuskan lahirlah kesadaran operasi bedah saraf massal demi mengembalikan jiwa-jiwa yang telah tersandera oleh Belanda. 

Trilogi PNI lahir bukan semata-mata sebagai program partai, melainkan sebagai alat Pendidikan pembebasan untuk mengahancurkan hegemoni pikiran, membangun harga diri melalui garis Non-Kooperasi dan menyatukan rakyat keci (Marhaen) menjadi tenaga raksasa yang sadar akan hak sejarahnya.   

Triogi Asas Perjuangan PNI

Trilogi inilah sebuah paradigma yang menjadi ruh bagi pergerakan PNI, Adapun trilogi tersebut Adalah pertama Self-Help, Kedua Non-Kooperasi, Ketiga Marhaenisme.  

Pertama, Self-Help, “Operasi Bedah Saraf atas Hegemoni Kolonial”

Dalam kacamata Gramsci kolonialisme belanda bertahan selama ratusan tahun bukan hanya karena takut kekuatan bedil, melainkan karena keberhasilan mereka membangun hegemoni. 

Melalui politik etis, belanda menciptakan consensus di pikiran rakyat bahwa bangsa Eropa Adalah ras unggul yang membawa peradaban, sementara pribumi Adalah ras rendah yang harus selalu dibimbing. Bung Karno menyadari bahwa rakyat patuh karena jiwa mereka telah “dijajah” oleh rasa minder yang akut.

Kondisi psikologis ini selaras dengan Analisa Frantz Fanon tentang Psikoanalis Kolonial, di mana penjajahan menciptakan “Luka Batin” berupa mental minder dan pemujaan berlebih pada belanda. Sementara Rakyat cenderung melihat mereka lewat mata penjajah, merasa bodoh, malas, dan tak berdaya. 

Inilah karekter sosial yang juga dikritik tajam oleh Mohtar Lubis sebagai manusia Indonesia yang munafik dan senang dipuja namun tak punya pendirian. 

Sebagai intelektual organik, Bung Karno meluncurkan jurus Asas Self-Help (Swadaya) untuk melakukan bedah saraf massal terhadap mentalitas pengemis tersebut. Beliau mendesak rakyat untuk membangun kekuatan ekonomi dan Pendidikan sendiri sebagai bukti nyata bahwa kutukan inferioritas tersebut dapat dipatahkan. 

Dengan berdiri diatas kaki sendiri, Bung Karno ingin mengubah rakyat dari obyek yang pasif menjadi subjek yang percaya diri, zahirnya hegemoni belanda runtuh karena rakyat tak lagi memberikan persetujuan batinnya untuk dijajah. 

Kedua, Non-Kooperasi, “Pendidikan sebagai Starategi Pembebasan”

Melangkah dari kemandirian mental, Bung Karno juga mengunakan jurus Non-Kooperasi sebagai alat Pendidikan pembebasan untuk mengubah pola piker rakyat kecil. Meminjam istilahnya Paulo Freire, rakyat saat itu terjebak dalam kesadaran magis misalnya “menganggap Nasib buruk adalah takdir” dan kesadaran Naif “menganggap penjajah memang hebat”. 

Strategi mogok Kerjasama dengan Belanda adalag cara Bung Karno mengajak rakyat naik kelas menuju kesadaran kritis. Di mana rakyat mulai memahami bahwa penindasan Adalah struktur buatan manusia dapat diruntuhkan. 

Jurus Non-Kooperasi ini Adalah cara bung Karno memisahkan antara “kita’ dan “mereka” secara tegas di medan politik. Hal ini dibenarkan oleh Ben Anderson dalam konsepnya Imagined Communities, katanya nasionalisme atau rasa “Satu Bangsa” hanya bisa dilahirkan jika ada garis pembatas yang jelas terhadap pihak luar. 

Dengan menolak duduk di Dewan buatan Belanda (Volkraad) Bung Karno sedang membangun imajinasi kolektif bahwa kita Adalah entitas Merdeka yang tidak boleh bercampur dengan system kolonial yang menghisab.

Penolakan kompromi tersebut menjadi kritik atas prilaku sehari-hari yang kerap dikeluhkan Mochtar Lubis, katanya kegemaran mencari aman dan posisi nyaman di bawah ketiak penguasa. 
Non-Kooperasi mengajarkan kepada rakyat untuk memiliki integritas dan harga diri politik yang mahal. Dengan menutup pintu rapat-rapat bagi Belanda, Bung Karno memastikan bahwa kemerdekan yang sedang diperjuangankan Adalah kemerdekaan murni hasil dari kekuatan bangsa sendiri, bukan sekedar hadiah yang menyisakan residu kepatuhan pada penjajah.

Ketiga, Marhaenisme, “Membangun Satu Identitas “Satu Bangsa” Persatuan Nasional”

Puncak dari seluruh strategi ini Adalah marhaenisme, sebuah ideologi yang menyatukan jutaan rakyat yang selama ini tercecer menjadi sebuah kekuatan raksasa. Bung Karno bertindak sebagai Intelektual Organik yang menerjemahkan teori kelas Eropa yang rumit kedalam Bahasa cangkul dan jaring nelayan. Beliau merangkul semua orang-orang kecil mulai dari petani seperti pak Marhaen hingga pedagan asongan dan menyatukan mereka kedalam sebuah blok Historis yang solid untuk menggoyang singgasana kolonial. 

Dalam Bahasa Ben Anderson, Marhaenisme Adalah instrument utama untuk mengukuhkan rasa “Satu Bangsa”. Melalui identitas Marhaen, rakyat yang berasal pelbagai latar belakang budaya kini memiliki satu perasaan senasib sepenanggungan. Mereka tak lagi merasa sebagai penduduk kampung yang terisolasi, melainkan bagian dari bangsa besar yang sedang bergerak menuntut haknya. Akhirnya Marhaenisme mampu mengubah rasa solidaritas lokal menjadi kekuatan nasionalisme yang sangat dashsyat.

Pada akhirnya, Marhaenisme Adalah proses final dari Pendidikan pembebasan dalam bahasanya Paulo Freire. Rakyat kecil tidak lagi melihat diri mereka sebagai “sampah Masyarakat” yang harus pasrah, melainkan sebagai subyek Sejarah yang berdaya. 

Marhaenisme telah mampu menjawab kritikan Mochtar Lubis dengan cara memberikan rakyat kecil sebuah karakter baru, karakter pejuang yang berani melawan system kolonial yang mampu memberikan kesadaran kritis bahwa mereka Adalah tuan atas Indonesia, Bung Karno memastikan bahwa api revolusi akan tetap menyala-nyala ditangan rakyat jelata, karena merekalah pemilik sah dari Republik yang dicita-citakan.

Sebagai sebuah kesatuan dialektis, Trilogi PNI yang dirumuskan Bung Karno pada 1927 adalah sebuah “Simponi Pembebasan” yang bekerja pada tiga level secara berbarengan; mental, politik dan sosial. Menurut Gramsci dan Fanon bahwa kemerdekaan harus dimulai dari dalam batok kepala sendiri, semangat Self-Help. 

Tanpa keberanian untuk memutus rantai hegemoni mental kemerdekaan fisik hanyalah pergantian tuan tanpa perubahan Nasib. Bung Karno mengajarkan bahwa harga diri sebuah bangsa tidak bisa dinegosiasikan; ia harus tumbuh dari kesadaran bahwa kita Adalah subjek yang setara, bukan obyek yang selamanya membutuhkan asing. 

Dari sisi strategis, Non-Kooperasi merupakan jembatan menuju kesadaran kritis dalam bahasanya Poulo Freire. Dengan menutup pintu kompromi, Bung Karno tidak hanya sedang melawan Belanda, akan tetapi juga sedang mendidik rakyat untuk memiliki karakter yang kokoh, sekaligus menjawab kritik Mochtar Lubis terhadap mentalitas bangsa yang lembek. 

Selanjutnya kata Ben Anderson Tindakan radikal ini Adalah fondasi bagi terbentuknya komunitas terbayang; sebuah Indonesia yang Merdeka bukan hadiah, melainkan sebagai hasil dari integritas dan penolakan mutlak terhadap segala bentuk penghambaan. 

Terakhir, Marhaenisme hadir sebagai pengikat seluruh energi rakyat yang selama ini tercecer. Di tangan Bung Karno rakyat jelata tidak lagi menjadi kerumunan bisu, melainkan sebuah kekuatan raksasa yang sadar akan hak sejarahnya. Trilogi ini membuktikan bahwa nasionalsime sejati Adalah nasionalisme yang memiliki “Perut” dan “Jiwa”. 

Dengan mewarisi api 1927 ini, kita diingatkan bahwa perjuangan belum usai masih ada pak Marhaen yang melarat di atas tanah yang kaya, dan selama mentalitas minder masih menghantui pikiran bangsa. Merdeka sejati Adalah Ketika rakyat percaya pada kekuatannya sendiri, berdiri tegak dengan kedaulatannya dan Bersatu dalam satu nafas kemanusian.    

Quote