Jakarta, Gesuri.id - Pada 13 Agustus 1945 saat Bung Karno berada di Singapura, kondisi di dalam negeri Indonesia khususnya di Jakarta berada dalam tingkat ketegangan yang amat tinggi.
Gelombang rumor mengenai penyerahan diri Jepang makin meluas di kalangan pemuda pergerakan melalui jaringan radio rahasia yang memantau siaran Sekutu.
Sutan Sjahrir dan kelompok pemuda di Cikini 71 serta Menteng 31 menghabiskan sepanjang hari di tanggal 13 Agustus itu untuk mengonsolidasikan barisan, memetakan posisi pasukan PETA, dan bersiap menyambut kedatangan Bung Karno dengan tuntutan proklamasi serta-merta.
Dampak langsung dari situasi tanggal 13 Agustus terhadap perjalanan kemerdekaan Indonesia adalah lahirnya ketidaksabaran revolusioner di dalam negeri.
Rakyat dan golongan muda yang telah menderita bertahun-tahun akibat kemiskinan, kelaparan, dan sistem kerja paksa romusha merasakan bahwa kekosongan kekuasaan (vacuum of power) sudah terjadi secara de facto.