Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Cirebon-Indramayu, sekaligus Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, menekankan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya dimaknai dengan terbebas dari penjajahan, tetapi juga harus diwujudkan melalui kemakmuran masjid, kesejahteraan masyarakat, kemandirian ekonomi, serta persatuan bangsa.
"Saya SD sampai SMA di Cirebon, jadi setiap menginjak Cirebon, darah saya berdesir. Alhamdulillah, 81 tahun Indonesia merdeka kita bisa Subuh berjamaah dengan tenang di Masjid Nurul Huda ini. Ini adalah nikmat kemerdekaan yang paling hakiki yang sering kita lupa," buka Prof. Rokhmin Dahuri.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin dalam tausiyah kebangsaan bertema "Mengisi Kemerdekaan dengan Iman, Ilmu, dan Cinta Tanah Air Bahari" di Masjid Nurul Huda, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kesambi, Kota Cirebon, dikutip Jumat (21/8/2026).
Tausiyah digelar setelah Salat Subuh berjamaah dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ratusan jamaah yang terdiri dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), tokoh masyarakat Kesambi, pemuda masjid, hingga ibu-ibu majelis taklim mengikuti tausiyah tersebut. Acara dimulai sekitar pukul 05.15 WIB dan ditutup pada pukul 06.30 WIB.
Dalam tausiyahnya, Prof. Rokhmin menyampaikan tiga pesan utama dalam memaknai kemerdekaan, yakni pentingnya syukur yang produktif, kepemimpinan yang berintegritas, serta menjadikan masjid sebagai pusat kebangkitan peradaban bahari dan ekonomi umat.
Menurutnya, rasa syukur atas kemerdekaan tidak cukup diwujudkan melalui upacara maupun berbagai perayaan. Kemerdekaan harus diisi dengan kerja keras dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Allah beri kita 17.000 pulau, 108.000 km garis pantai, 70% wilayah kita adalah laut. Anugerah terluas di dunia. Tapi kalau masjid kita makmur hanya untuk ibadah ritual, sementara ekonomi umat lemah, laut kita dikuasai bangsa lain, itu namanya kita belum merdeka seutuhnya. Jangan mau jadi kuli di negeri sendiri," tegasnya.
Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan dalam menjaga persatuan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Menurutnya, pemimpin Indonesia harus memiliki sifat yang dicontohkan Rasulullah, yakni Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah.
"Kalau pemimpin Sidiq jujur, Amanah tidak korupsi, Fathanah cerdas dan berilmu, Tabligh menyampaikan kebenaran, maka persatuan bangsa akan kokoh. Inilah yang diajarkan Rasulullah, dan inilah ruh dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.
Selain itu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 tersebut menilai masjid dapat menjadi pusat kebangkitan peradaban sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Ia mengapresiasi DKM Nurul Huda yang mampu menghidupkan kegiatan Salat Subuh dan mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas produktif.
"Masjid Nurul Huda ini di jalan utama Kota Cirebon. Kalau Subuhnya saja penuh seperti ini di hari kemerdekaan, saya yakin Cirebon akan menjadi episentrum kebangkitan ekonomi bahari dan ekonomi umat. Dari masjid kita atur koperasi nelayan, beasiswa anak pesisir, dan literasi digital," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin juga menyoroti data Kementerian Agama yang menyebut hanya 39 persen umat Islam Indonesia yang rutin melaksanakan salat. Ia menyebut data tersebut sebagai alarm yang perlu menjadi bahan evaluasi dan renungan bersama.
"Data tersebut sudah disampaikan secara terbuka dan telah banyak diberitakan. Karena diteliti oleh lembaga yang kredibel, insyaallah datanya dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Menurut Prof. Rokhmin, angka tersebut perlu menjadi perhatian karena salat merupakan rukun Islam kedua sekaligus tiang agama. Ia berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada perdebatan mengenai data, tetapi mendorong introspeksi dan perbaikan kehidupan sosial masyarakat.
"Kalau data itu benar, tentu cukup memprihatinkan. Angka 39 persen ini seharusnya menjadi bahan evaluasi dan renungan bersama," ajaknya.
Ia berharap peningkatan kualitas ibadah dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui kejujuran, kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Tausiyah tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama untuk para pahlawan, keselamatan Kota Cirebon dari ancaman banjir rob dan kemiskinan pesisir, serta kemajuan Masjid Nurul Huda agar terus menjadi mercusuar dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Acara berakhir dengan musafahah dan sarapan nasi jamblang khas Cirebon di halaman masjid. Sejumlah jamaah kemudian berdiskusi mengenai potensi tambak dan perikanan di kawasan pesisir Kesambi sebagai bagian dari upaya mendorong ekonomi bahari dan kesejahteraan masyarakat.

















































































