Membalikkan Papan Catur, Counter-Framing Soekarno di Bawah Bayang-Bayang Fasisme Jepang

Dalam teater politik, siapa yang menguasai bingkai (frame), dialah yang menguasai realitas.
Kamis, 06 Agustus 2026 06:02 WIB Jurnalis - Ali Imron

Pada tanggal 6 Agustus 1945, ruang gerak politik Indonesia berada di titik paling nadir. Di tengah asimetri kekuasaan yang ekstrem, Ir. Soekarno menerima sebuah pesan yang dirancang untuk mendikte realitas tersebut: panggilan mendadak untuk menghadap Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi) Marsekal Hisaichi Terauchi di Dalat, Vietnam.

Dari kacamata komunikasi politik, panggilan ini bukanlah sekadar undangan administratif. Ini adalah sebuah jebakan framing yang fatal. Kekaisaran Jepang sedang memproyeksikan hegemoni mereka, mendesain sebuah optik politik yang secara gamblang menyatakan: kemerdekaan Indonesia adalah sepotong roti yang berada di genggaman Tokyo, dan Soekarno hanyalah tangan yang harus menengadah untuk menerimanya.

Jika Soekarno merespons panggilan ini dengan koreografi dan retorika yang tunduklayaknya seorang bawahan yang menghadap sang kaisarkonsekuensinya akan sangat mematikan. Di mata Sekutu yang akan segera memenangkan perang, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) akan secara permanen distempel sebagai institusi boneka fasis. Sementara di dalam negeri, kelompok radikal dan pemuda akan mencabut legitimasi Soekarno karena dianggap menggadaikan martabat bangsa.

Namun, di sinilah letak kecemerlangan insting politik seorang Soekarno. Ia menolak masuk ke dalam bingkai yang disediakan oleh penguasa militer. Ia memilih untuk meruntuhkan bingkai tersebut dan membangun narasi tandingannya sendiri (counter-framing).

Dari Bawahan Menjadi Delegasi
Langkah pertama counter-framing Soekarno tidak diucapkan melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan non-verbal. Ia menolak berangkat sebagai seorang individu yang sekadar mematuhi perintah atasan.

Baca juga :