Jakarta, Gesuri.id - Di sebuah kampung imajiner bernama Tirai Besi, hiduplah seorang gadis bernama Nurani. Ia tumbuh dari tanah yang sederhana, ditempa oleh angin, doa orang tua, dan keyakinan bahwa hidup bukan sekadar dijalani, tetapi dipilih.
Sejak kecil, ia memahami satu pelajaran paling penting: manusia boleh salah melangkah, tetapi ia tidak boleh kehilangan hak untuk menentukan arah. Sebab hidup tanpa pilihan hanyalah perjalanan yang dikemudikan orang lain.
Ketika Nurani cukup dewasa untuk menikah, kampung itu tidak gegap gempita oleh paksaan, melainkan oleh musyawarah. Banyak nama disebut, banyak watak dipertimbangkan. Nurani mendengar, menimbang, lalu memilih. Pilihannya mungkin tidak sempurna, tetapi ia sadar: tanggung jawab selalu lahir dari kebebasan. Ia siap menanggung risikonya, sebab keputusan itu miliknya sendiri.
Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama. Datanglah sekelompok orang terhormat dengan jas rapi dan suara meyakinkan. Mereka membawa kitab aturan, tabel anggaran, dan istilah-istilah yang terdengar pintar.
Mereka berkata, memilih sendiri itu mahal, melelahkan, penuh konflik, dan berisiko salah. Biarlah kami yang memilihkan, ujar mereka, seolah masa depan bisa diringkas dalam rapat singkat dan hitungan biaya.