Jakarta, Gesuri.id Wasekjen DPP PDI Perjuangan Bidang Komunikasi sekaligus Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu, mengenang Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta, sebagai titik temu seluruh kekuatan yang menginginkan perubahan politik pada masa Orde Baru. Menurutnya, tempat itu menjadi magnet yang menyatukan mahasiswa, buruh, aktivis, hingga masyarakat yang kecewa terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.
Sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, Adian menceritakan bahwa sebelum bergabung mendukung Megawati Soekarnoputri, berbagai kelompok mahasiswa telah mencoba membangun gerakan bersama sejumlah tokoh oposisi seperti Sri Bintang Pamungkas maupun Muchtar Pakpahan. Namun berbagai gerakan tersebut dinilai belum memiliki kekuatan massa yang cukup besar untuk menghadapi rezim saat itu.
Kami sudah mencoba mendukung berbagai gerakan. Ada Sri Bintang Pamungkas, ada Muchtar Pakpahan. Tetapi kami melihat kekuatannya belum cukup besar. Akhirnya kami berdiskusi, siapa yang memiliki basis massa nyata untuk menjadi pusat perlawanan, ujar Adian dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Ciracas di Jakarta Timur, Sabtu (25/7).
Dari berbagai diskusi di kalangan aktivis lintas kampus, pilihan akhirnya mengerucut kepada kelompok pro-Megawati. Menurut Adian, Megawati memiliki struktur partai yang tetap bekerja, jaringan organisasi yang hidup, serta militansi kader yang tidak dimiliki kelompok perlawanan lainnya.
Kami melihat Diponegoro 58 menjadi tempat berkumpulnya semua yang kecewa, semua yang marah, semua yang dimarjinalkan. Di situlah akhirnya hampir seluruh kelompok pergerakan bertemu, katanya.