Jakarta, Gesuri.id Wasekjen DPP PDI Perjuangan Bidang Komunikasi Adian Napitupulu mengungkapkan perjuangan mahasiswa mendukung Megawati Soekarnoputri menjelang Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 tidak hanya dilakukan melalui demonstrasi, tetapi juga lewat kreativitas memproduksi sendiri berbagai alat propaganda.
Adian mengatakan, pada masa Orde Baru hampir tidak ada percetakan yang berani mencetak materi kampanye ataupun propaganda politik yang mendukung kelompok pro-demokrasi. Percetakan yang nekat menerima pesanan berisiko mendapat tekanan bahkan ditutup aparat.
Kami tidak bisa mencetak di percetakan. Karena itu semua aktivis belajar menyablon sendiri. Kaus bisa, stiker bisa, spanduk juga bisa, ujar Adian dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Ciracas di Jakarta Timur, Sabtu (25/7).
Ia mengenang, setiap malam para mahasiswa berkumpul membuat stiker menggunakan peralatan sederhana. Kertas bekas percetakan dibeli secara kiloan dari kawasan Kampung Melayu, kemudian disablon secara manual hingga dini hari.
Setiap malam kami mencetak stiker. Paginya dibagikan saat mimbar bebas atau ditempel di bus-bus kota. Itu menjadi bagian dari perjuangan kami, katanya.