JAKARTA Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri kembali menyuarakan urgensi kedaulatan nasional yang berakar pada kemandirian ekonomi dan penguasaan ilmu pengetahuan. Dalam pidato kebangsaannya di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Megawati mendesak agar Indonesia kembali menengok Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana, sebuah mahakarya cetak biru pembangunan yang digagas pada era Presiden Soekarno.
Presiden ke-5 RI itu tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Menurut Megawati, Orde Baru telah melakukan kesalahan besar dengan membuang begitu saja konsep strategis yang sejatinya dirancang demi kemakmuran rakyat Indonesia.
Bayangkan, sudah dirancang oleh 600 doktor, insinyur, dan para ahli. Tapi pada waktu zaman Pak Harto, sudah dibuat, kok tidak dipakai? Disingkirkan, dibuang begitu saja. Padahal kalau kita lihat dan baca, itu memang dibuat bagi seluruh rakyat Indonesia, tegas Megawati di hadapan para kader partai.
Megawati menegaskan bahwa kritiknya ini bukanlah bentuk sentimen pribadi terhadap Soeharto, melainkan pembelaan terhadap kebenaran dan kepentingan nasional. Oleh karena itu, ia menyatakan akan menginstruksikan seluruh jajaran PDI Perjuangan pada kongres partai mendatang untuk kembali menjadikan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana sebagai pijakan dalam mewujudkan cita-cita bangsa.
Untuk membuktikan betapa pentingnya kedaulatan dan kemandirian, Megawati mengajak para kadernya untuk belajar dari negara-negara yang tidak mudah tunduk pada dominasi negara adidaya. Ia secara khusus menyebut Tiongkok, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Korea Utara, hingga Iran.