Jakarta, Gesuri.id Sekretaris DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Pantas Nainggolan menegaskan Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 menjadi momentum penting yang membangkitkan keberanian rakyat melawan praktik otoritarianisme Orde Baru hingga akhirnya membuka jalan bagi lahirnya Reformasi 1998.
Hal itu disampaikan Pantas saat menjadi narasumber dalam Pameran Foto 30 Tahun Peristiwa Kudatuli di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).
Pantas menjelaskan benih konflik bermula ketika pemerintah Orde Baru menolak terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI pada Kongres Surabaya 1993. Penolakan tersebut membuat kongres mengalami kebuntuan hingga akhirnya diselesaikan melalui Musyawarah Nasional PDI di Kemang, Jakarta Selatan, yang menetapkan Megawati sebagai ketua umum secara aklamasi.
Pada masa Orde Baru hampir tidak ada organisasi politik yang dapat menentukan ketua umumnya tanpa restu presiden. Karena itu, ketika Ibu Megawati memperoleh dukungan penuh dari cabang-cabang PDI, pemerintah tidak dapat menerimanya, ujar Pantas.
Menurutnya, setelah Megawati memperoleh legitimasi politik, berbagai tekanan mulai dilakukan pemerintah, mulai dari operasi intelijen hingga penyelenggaraan Kongres PDI di Medan yang menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum.