Jakarta, Gesuri.id Tokoh PDI Perjuangan Jakarta sekaligus saksi dan pelaku sejarah Peristiwa Kudatuli 1996, William Yani, mengungkapkan gerakan pro-demokrasi menjelang penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 dibangun melalui jejaring mahasiswa lintas kota, terutama Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
William mengatakan dirinya saat itu merupakan mahasiswa Universitas Parahyangan, Bandung. Selain aktif mendampingi ayahnya, Yakob Nuwa Wea, yang merupakan tokoh di PDI, ia juga terlibat dalam berbagai organisasi mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi.
Saya berada di dua posisi, di dalam sebagai bagian dari keluarga PDI dan di luar sebagai mahasiswa. Karena itu saya melihat bagaimana gerakan mahasiswa dan partai akhirnya bertemu, ujar William dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Ciracas di Jakarta Timur, Sabtu (25/7).
Ia mengenang pada 1994 sejumlah aktivis telah membentuk jaringan solidaritas yang mempertemukan tokoh-tokoh pro-demokrasi seperti Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, hingga Gus Dur. Menurutnya, komunikasi antaraktivis di berbagai kota terus berlangsung hingga menjelang Peristiwa Kudatuli.
William menjelaskan Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta menjadi tiga simpul utama gerakan mahasiswa saat itu. Dari Yogyakarta muncul jaringan aktivis yang kemudian berkolaborasi dengan kelompok mahasiswa di Bandung dan Jakarta, termasuk Forum Kota (Forkot) yang menjadi salah satu motor gerakan Reformasi.