“Apa yang Masih Kurang?”: Di Tengah Hujan dan Lumpur, Risma Menjadi ‘Obat’ bagi Korban Banjir Sumbar

Ini sarung, kemudian ada daster, Bu. Ini semua baru, karena Ibu Ketua Umum tidak mengizinkan kami memberikan barang bekas
Minggu, 04 Januari 2026 08:25 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Agam, Gesuri.id - Hujan belum berhenti ketika Tri Rismaharini menjejakkan kaki di Sumatera Barat. Lumpur masih menutup selokan, listrik kerap padam, dan wajah-wajah lelah warga pengungsian menjadi saksi bahwa bencana belum benar-benar usai. Namun di tengah situasi itulah Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana ini datangbukan sekadar meninjau, melainkan mendengar dan merasakan langsung penderitaan warga.

Selama tiga hari, Risma menyusuri dua kabupaten terdampak banjir, Agam dan Tanah Datar. Ia tiba di Kabupaten Agam pada Rabu (31/12) menjelang malam. Tanpa menunggu pagi, Risma langsung mendatangi lokasi pengungsian, menyapa satu per satu warga yang kehilangan rumah dan harta benda. Malam itu, ia memilih bermalam di Agam.

Keesokan harinya, Kamis (1/1), Risma kembali turun ke lapangan. Ia ikut mengeruk lumpur yang menyumbat selokan, memastikan air dapat mengalir, seolah ingin memastikan bahwa harapan pun ikut menemukan jalannya.

Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Tanah Datar pada Jumat (2/1). Hujan deras kembali menyambut, namun langkah Risma tak surut. Di setiap sudut yang ia singgahi, pertanyaan yang sama selalu ia lontarkan kepada warga, Apa yang mau disampaikan?

Kedatangan Risma tidak dengan tangan kosong. Sebanyak tiga ton bantuan dibawanya, mulai dari pakaian layak pakai, pompa air, lampu tenaga surya, hingga sembako. Bantuan tersebut didistribusikan langsung ke desa-desa terdampak, salah satunya di Nagari Guguak Malalo, Kabupaten Tanah Datar.

Baca juga :