Agam, Gesuri.id - Hujan belum berhenti ketika Tri Rismaharini menjejakkan kaki di Sumatera Barat. Lumpur masih menutup selokan, listrik kerap padam, dan wajah-wajah lelah warga pengungsian menjadi saksi bahwa bencana belum benar-benar usai. Namun di tengah situasi itulah Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana ini datang—bukan sekadar meninjau, melainkan mendengar dan merasakan langsung penderitaan warga.
Selama tiga hari, Risma menyusuri dua kabupaten terdampak banjir, Agam dan Tanah Datar. Ia tiba di Kabupaten Agam pada Rabu (31/12) menjelang malam. Tanpa menunggu pagi, Risma langsung mendatangi lokasi pengungsian, menyapa satu per satu warga yang kehilangan rumah dan harta benda. Malam itu, ia memilih bermalam di Agam.
Keesokan harinya, Kamis (1/1), Risma kembali turun ke lapangan. Ia ikut mengeruk lumpur yang menyumbat selokan, memastikan air dapat mengalir, seolah ingin memastikan bahwa harapan pun ikut menemukan jalannya.
Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Tanah Datar pada Jumat (2/1). Hujan deras kembali menyambut, namun langkah Risma tak surut. Di setiap sudut yang ia singgahi, pertanyaan yang sama selalu ia lontarkan kepada warga, “Apa yang mau disampaikan?”
Kedatangan Risma tidak dengan tangan kosong. Sebanyak tiga ton bantuan dibawanya, mulai dari pakaian layak pakai, pompa air, lampu tenaga surya, hingga sembako. Bantuan tersebut didistribusikan langsung ke desa-desa terdampak, salah satunya di Nagari Guguak Malalo, Kabupaten Tanah Datar.
Di hadapan warga yang berkumpul di posko bencana, Risma menyerahkan bantuan sembari berbincang hangat.
“Ini sarung, kemudian ada daster, Bu. Ini semua baru, karena Ibu Ketua Umum tidak mengizinkan kami memberikan barang bekas,” ucap Risma, disambut senyum dan mata berkaca-kaca warga.
Dari dialog itu, Risma menangkap satu kebutuhan mendesak: genset. Listrik di wilayah tersebut kerap mati, menyulitkan aktivitas warga di pengungsian.
“Kalau genset, mungkin kalau di Padang Panjang ada, saya bisa langsung kirim,” ujarnya, memberi harapan baru.
Bagi warga, kehadiran Risma bukan sekadar membawa bantuan logistik. Salah seorang perwakilan warga menyebutnya sebagai “obat” di tengah luka akibat bencana.
“Dengan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Risma, terutama kepada Ibu Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri,” ucapnya.
“Kehadiran ini menjadi obat bagi kami. Insyaallah bantuan ini akan kami distribusikan kepada para pengungsi,” tambahnya.
Di tengah hujan yang tak kunjung reda dan lumpur yang masih melekat di kaki, kehadiran Risma menjadi penanda bahwa negara—melalui gotong royong dan kepedulian—masih menyapa mereka yang tertinggal di tengah bencana.

















































































