Ikuti Kami

Hasto Kristiyanto: Bagi PDI Perjuangan, Koalisi Permanen Itu Bersama Rakyat

Soal Wacana Koalisi Permanen, Hasto Kristiyanto: Kami Tak Campuri Kedaulatan Partai Lain

Hasto Kristiyanto: Bagi PDI Perjuangan, Koalisi Permanen Itu Bersama Rakyat
Sekjen DPP PDI Perjuangan turut mengikuti ajang Soekarno Run 2026 - Foto: DPP PDI Perjuangan

Jakarta, Gesuri.id – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menanggapi wacana pembentukan koalisi permanen yang digagas sejumlah partai pendukung pemerintahan saat ini. Hasto menegaskan bahwa bagi PDIP, koalisi yang bersifat permanen adalah koalisi bersama rakyat.

"Kalau bagi PDI Perjuangan, koalisi permanen itu dengan rakyat. Karena sistem politik kita pascajatuhnya Soeharto mengembalikan makna kekuasaan itu untuk rakyat, dari rakyat, dan oleh rakyat. Itu yang dipegang oleh PDI Perjuangan," ujar Hasto Kristiyanto, usai menuntaskan lari dalam ajang Soekarno Run 2026 di Parkir Timur Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (15/2/2026).

Meski mengakui dinamika politik nasional sangat terbuka terhadap kerja sama antarpartai, Hasto menyatakan pihaknya menghormati langkah politik parpol lain tanpa berniat mencampurinya. Namun, ia memberikan catatan kritis terkait penggunaan hasil survei sebagai basis legitimasi wacana tersebut.

Menurut Hasto, survei seharusnya hanya menjadi alat ukur persepsi, bukan alat dogmatisme kekuasaan untuk membangun bandwagon effect atau efek ikut pemenang. Ia menekankan pentingnya memadukan data kuantitatif dengan realitas kualitatif di lapangan.

"Misalnya untuk mengukur kemiskinan, bukan hanya angka statistik, tapi lihat kemiskinan faktual. Bagaimana akses pendidikan dan kehidupan layak? Itu aspek kualitatif yang harus dilihat. Jadi bagi PDI Perjuangan, yang penting kerja ke bawah, turun memperkuat rakyat," jelasnya.

Menanggapi munculnya nama Ganjar Pranowo dalam survei elektabilitas terbaru dari Indikator Politik Indonesia, Hasto mengingatkan agar semua pihak kembali pada esensi demokrasi substansial daripada sekadar urusan elektoral. Ia mencontohkan tragedi kemanusiaan di NTT sebagai pengingat bagi partai politik untuk lebih peduli pada persoalan rakyat.

"Yang penting sekarang kerja untuk rakyat dulu, Pemilu masih jauh. Apa yang terjadi di NTT, ada anak sekolah bunuh diri karena tidak bisa membeli alat tulis, itu pukulan kemanusiaan dan tamparan buat kita semua. Jangan bawa demokrasi ini hanya elektoral, lebih baik bicara demokrasi untuk rakyat," tegas Hasto.

Hasto menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa partai politik harus bergerak turun ke bawah untuk mengatasi masalah nyata di masyarakat, daripada terus-menerus terjebak dalam pembicaraan mengenai pemilu.

Quote