Jakarta, Gesuri.id -Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, memaknai Lebaran sebagai momentum spiritual dan kultural untuk membersihkan diri, memperbaiki hubungan antarmanusia, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang hidup dalam tradisi masyarakat Jawa.
Lebaran juga sering dimaknai dari kata lebur. Melebur dosa, melebur salah paham, melebur jarak diantara manusia yang semula renggang dipertemukan kembali. Yang terasa berat di hati menjadi ringan karena keikhlasan. Ada pula makna yang sangat indah dari kata lebur. Dalam tradisi masa lalu, melebur berarti memutihkan dinding rumah dengan kapur. Rumah dibuat kembali bersih dan terang, kata Aria Bima, dikutip Sabtu(28/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam kearifan lokal Jawa, makna lebaran tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang pembersihan batin dan pembaruan niat dalam menjalani kehidupan.
Dari situlah orang Jawa memaknai lebaran sebagai saat untuk melabur hati, memutihkan batin, membersihkan niat, dan memulai kembali kehidupan dengan jiwa yang lebih penik. Karena itulah dalam tradisi Jawa, lebaran tidak berhenti pada tanggal satu syawal saja. Ia dirasakan sebagai rangkaian sampai delapan syawal yang dikenal sebagai batu kupat atau ketupat, ucapnya.
Menurut Aria Bima, tradisi kupatan yang berkembang di masyarakat Jawa juga sarat makna filosofis, bukan sekadar tradisi kuliner semata, melainkan refleksi dari kesadaran diri untuk mengakui kesalahan.