Jakarta, Gesuri.id - Di negara maritim sebesar Indonesia, ironi justru berembus dari arah laut. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang menyentuh kisaran Rp 26.000 hingga Rp 30.000 per liter memaksa nelayan berhadapan dengan realitas pahit: melaut tak lagi menjamin ruang penghidupan.
Ini bukan sebatas fluktuasi harga musiman, melainkan ancaman langsung terhadap keberlanjutan ekonomi pesisir. Pada aras makro, pemerintah sejatinya telah menyuarakan optimisme.
Rencana diversifikasi pasokan energi oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)termasuk mewacanakan impor minyak mentah dari Rusia demi menekan biaya energi nasionaltampak rasional di atas kertas. Sayangnya, rasionalitas tersebut belum merembes ke akar rumput.
Bagi nelayan, BBM adalah urat nadi produksi, bukan sekadar komponen pelengkap operasional. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan, 60 hingga 70 persen biaya melaut tersedot untuk bahan bakar. Artinya, setiap eskalasi harga BBM akan serta-merta memangkas daya sintas nelayan.
Dampaknya kian riil di berbagai kantong perikanan. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, banyak armada penangkap ikan bersandar pasif lantaran biaya operasional tak lagi rasional. Jeritan serupa menggema dari Indramayu, Tegal, hingga Rembang.