Jakarta, Gesuri.id - Asap kembali menyelimuti langit Kalimantan. Di Kalimantan Barat, luasan lahan yang terbakar sejak awal tahun hingga Agustus 2026 telah menembus lebih dari 38.000 hektare, dengan Kabupaten Ketapang menjadi wilayah paling parah terdampak. Kalimantan Tengah menyusul dengan ribuan titik panas dan status siaga darurat bencana yang telah ditetapkan gubernur setempat.
Kalimantan Selatan mencatat belasan ribu hektare lahan hangus hingga awal September. Ribuan personel gabungan,dari Manggala Agni, TNI, Polri, hingga relawan masyarakat, diturunkan untuk memadamkan api yang, di banyak titik, justru menjalar diam-diam di bawah permukaan gambut, sulit dipadamkan, dan mudah menyala kembali.
Pola ini bukan hal baru. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan datang berulang setiap musim kemarau, seolah menjadi ritus tahunan yang tak pernah benar-benar diatasi. Pemerintah kerap menyederhanakan persoalan ini sebagai murni bencana alam: kemarau panjang, El Nino, cuaca ekstrem, dan lain-lain.
Namun narasi itu menyembunyikan pertanyaan yang lebih mendasar, mengapa bentang alam Kalimantan menjadi begitu mudah terbakar?
Catat: api tidak muncul dari ruang kosong. Ia menjalar cepat justru di lanskap yang telah kehilangan kemampuan alaminya untuk menyimpan air.