Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Edi Purwanto, mendesak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Indonesia.
Desakan itu disampaikan Edi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Sekretaris Utama BMKG dan BASARNAS, dikutip Jumat (11/9/2026).
Edi secara khusus menyoroti kondisi lahan gambut di sejumlah wilayah Sumatera, seperti Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Menurutnya, karakteristik gambut membuat penanganan karhutla jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan biasa.
Ia menilai upaya pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan hujan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hujan yang turun dalam waktu singkat belum tentu mampu menjangkau dan membasahi lapisan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan.
“Gambut ini nggak gampang. Bapak bikin OMC, hujan satu jam, itu tidak bisa langsung memadamkan. Artinya, ikhtiarnya harus ekstra. Bagaimana bisa dilakukan inovasi-inovasi modifikasi cuaca ini supaya bisa lebih tahan lama,” tegas Edi.
Menurutnya, BMKG perlu terus melakukan inovasi agar teknologi modifikasi cuaca tidak hanya berorientasi pada mendatangkan hujan, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih optimal dalam menghadapi kondisi darurat karhutla.
Edi juga menekankan pentingnya ketepatan analisis dan prediksi cuaca. Ia meminta BMKG memperkuat sistem peringatan dini sehingga potensi bencana dapat diketahui sedini mungkin dan pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk mengambil langkah antisipasi.
Tak hanya karhutla, Edi turut menyinggung pentingnya kemampuan prediksi terhadap potensi bencana geologi, termasuk aktivitas gunung api di Indonesia.
Menurutnya, pemetaan dan identifikasi terhadap gunung-gunung api aktif perlu terus diperkuat. Jika perkembangan aktivitasnya dapat dipantau secara lebih akurat, kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan erupsi juga dapat ditingkatkan.
“Termasuk mungkin memprediksi gunung atau apa pun namanya ini kira-kira satu bulan sebelum terjadi, atau prediksi kita beberapa bulan sebelum terjadi. Identifikasi gunung-gunung di seluruh Indonesia ini kira-kira kapan terjadi erupsi. Siapa tahu BMKG punya metode, punya peralatan itu,” jelasnya.
Edi menilai kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi bencana. Menurutnya, teknologi prediksi yang semakin maju harus dimanfaatkan untuk memperkuat mitigasi, bukan sekadar merespons setelah bencana terjadi.
“Kita pernah melakukan identifikasi seluruh gunung-gunung yang aktif ini posisinya seperti apa, sehingga kesiapan kita bisa lebih baik. Semoga tidak terjadi bencana,” katanya.
Edi berharap BMKG bersama lembaga terkait terus memperkuat kolaborasi, inovasi teknologi, serta sistem peringatan dini.
Dengan begitu, berbagai ancaman bencana, mulai dari karhutla hingga erupsi gunung api, dapat diantisipasi lebih cepat sehingga risiko terhadap masyarakat dan lingkungan bisa ditekan.

















































































