Ketika Jepang Ditolak dan China Dipilih: Apakah Indonesia Memang Salah Naik Kereta Cepat?

Oleh: Dr. Harris Turino, S.T., S.H., M.Si., M.M. - Kapoksi PDI Perjuangan Komisi XI DPR RI.
Sabtu, 28 Maret 2026 19:19 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Ada satu pertanyaan yang selalu muncul setiap kali saya melihat kereta cepat Whoosh meluncur di atas rel. Keretanya memang cepat. Tetapi laju pembengkakan biayanya, maaf saya harus bilang, juga tidak kalah cepat.

Tulisan ini bukan laporan investigasi. Ini hanya perenungan seorang yang sehari-hari duduk di Komisi XI, ikut membahas angka, utang, dan risiko fiskal. Apalagi sebelumnya duduk di Komisi VI, yang ikut mengawasi sejak awal proses pengerjaan proyek prestisius ini. Saya hanya ingin berandai-andai, bagaimana jadinya kalau dulu Indonesia memilih Jepang, bukan China?

Sulit memastikan hasil akhirnya akan lebih baik atau lebih buruk. Tetapi hampir pasti jalannya akan berbeda. Dan perbedaan itulah yang jarang kita bicarakan secara jujur.

Jepang adalah negeri yang melahirkan kereta cepat modern pertama di dunia. Shinkansen mereka sudah beroperasi sejak 1964. Dikenal bukan hanya karena kecepatan, tetapi juga karena ketepatan waktu yang luar biasa, keselamatan yang hampir tanpa cela, dan budaya perawatan yang sangat disiplin. Di Jepang, kereta terlambat satu menit saja bisa menjadi berita nasional. Bagi mereka, kereta cepat bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol budaya kerja yang tertib, presisi, dan tidak suka kompromi.

Baca:Ini 7 Fakta Unik Menarik TentangGanjarPranowo

Baca juga :