Jakarta, Gesuri.id - Pada tanggal 13 Agustus 1945, saat kami berada di Singapura dalam perjalanan pulang ke Jakarta, suasana di sekeliling kami telah berubah menjadi panggung kecemasan yang luar biasa. Di mata orang-orang Jepang yang kami temui, tidak ada lagi kilat kejayaan atau keangkuhan tentara Kekaisaran. Mereka bergerak seperti bayangan yang sedang menunggu vonis kematian. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana sebuah mesin perang yang pernah menggetarkan Asia kini runtuh tanpa bersuara. Pada hari itu, makin jelas bagiku bahwa kita sedang berkejaran dengan waktu. Kemerdekaan Indonesia tidak boleh lagi tertunda satu hari pun setelah kami mendarat di Jawa, karena jika kita terlambat, bayangan kolonialisme Barat akan kembali mencengkeram tanah air kita melalui kekosongan kekuasaan ini.
Bung Karno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Dalam buku otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno merekam atmosfer kelam serta analisis batinnya pada tanggal 13 Agustus 1945 tersebut dengan sangat mendalam.
Tanggal 13 Agustus 1945 merupakan momen persimpangan yang amat mencekam dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Pada hari itu, Bung Karno, Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat berada dalam posisi transit di Singapura setelah menyelesaikan misi diplomasi dengan Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam.
Di kota pelabuhan yang saat itu dikuasai Jepang tersebut, Bung Karno berada dalam isolasi informasi langsung dari Jakarta, namun secara intuitif ia dapat merasakan bahwa panggung politik dunia sedang runtuh.