Jakarta, Gesuri.id - Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana CFP, menilai pencapaian sektor jasa keuangan yang tumbuh tinggi sebesar 7,92 persen (year on year) pada kuartal IV-2025 sebagai perkembangan yang sangat positif bagi perekonomian nasional.
Angka tersebut merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak Juni 2021.
Menurut Anggota Bidang Ekonomi Badan Analisa, Riset dan Kebijakan Pusat DPP PDI Perjuangan itu menilai, capaian ini menunjukkan sektor jasa keuangan semakin kokoh sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan 7,92 persen ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah sinyal bahwa kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional terus menguat, sekaligus mencerminkan dinamika ekonomi yang semakin sehat dan progresif, ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2).
Elvi juga menjelaskan bahwa peningkatan kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional tercermin dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang kini telah mencapai 184 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurutnya, rasio ini menunjukkan semakin dalamnya pendalaman pasar keuangan (financial deepening) di Indonesia.
Ketika rasio aset dan produk keuangan terhadap PDB meningkat, itu berarti aktivitas intermediasi, investasi, dan pembiayaan semakin luas. Ini memperbesar kapasitas ekonomi dalam menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa capaian tersebut menjadi bukti meningkatnya partisipasi publik di pasar modal, baik dari sisi jumlah investor maupun nilai transaksi.
Elvi melanjutkan, selain pertumbuhan aset, diversifikasi produk keuangan yang semakin luas turut menjadi indikator penting dari pencapaian tersebut. Instrumen investasi yang semakin beragammulai dari saham, obligasi, reksa dana, hingga produk derivatifmemberikan pilihan yang lebih luas bagi masyarakat.
Semakin banyak produk keuangan yang tersedia, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk menyesuaikan instrumen investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan mereka, ungkapnya.
Diversifikasi ini, lanjutnya, juga mencerminkan semakin matangnya infrastruktur dan regulasi pasar keuangan nasional.
Meski demikian, Elvi mengingatkan pemerintah maupun otoritas pasar modal untuk tidak lengah. Ia menekankan pentingnya meningkatkan ketahanan publik atau investor terhadap risiko fluktuasi pasar.
Menurutnya, pertumbuhan yang tinggi perlu diimbangi dengan penguatan literasi keuangan dan perlindungan investor.
Fluktuasi pasar adalah keniscayaan. Karena itu, pemerintah dan otoritas perlu memperluas edukasi literasi keuangan, memperkuat transparansi emiten, serta menyediakan instrumen lindung nilai (hedging) yang lebih mudah diakses oleh investor ritel, tegasnya.
Ia juga mendorong pengembangan instrumen stabilisasi pasar, peningkatan kualitas pengawasan, serta penguatan manajemen risiko di lembaga jasa keuangan.
Pertumbuhan sektor keuangan harus diiringi dengan sistem yang resilien. Dengan demikian, ketika terjadi gejolak global maupun domestik, investor tetap terlindungi dan kepercayaan publik tetap terjaga, pungkasnya.