Percaturannya di Dalat, Bagaimana Soekarno Mengunci Teritori Indonesia

Para pemuda mendesak Soekarno untuk melepaskan diri dari kerangka kerja yang dijanjikan Terauchi di Dalat.
Rabu, 12 Agustus 2026 17:42 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Tanggal 12 Agustus 1945 merupakan salah satu titik krusial dalam geopolitik Asia Tenggara menjelang runtuhnya kekuasaan Kekaisaran Jepang. Pada hari tersebut, perhatian diplomasi Indonesia tertuju ke Dalat, sebuah kota di dataran tinggi Vietnam, tempat markas besar Panglima Tertinggi Tentara Wilayah Selatan Kekaisaran Jepang, Marsekal Hisaichi Terauchi.

​Latar belakang pertemuan ini dipicu oleh kehancuran tragis kota Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 akibat bom atom sekutu. Menyikapi situasi imperium yang terdesak hebat, Tokyo menginstruksikan Terauchi untuk memanggil tiga tokoh utama pergerakan Indonesia: Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.

​Perjalanan udara menuju Vietnam dilakukan dalam kerahasiaan tinggi menggunakan pesawat militer kargo milik militer Jepang. Perjalanan yang berisiko tinggi tersebut sempat melakukan transit di Singapura sebelum akhirnya rombongan tiba di Dalat pada 11 Agustus malam.

​Tepat pukul 10.00 waktu setempat pada 12 Agustus 1945, sidang resmi di markas Marsekal Terauchi dibuka. Dalam pertemuan mendalam tersebut, Terauchi menyampaikan pernyataan politik resmi dari Kekaisaran Jepang terkait masa depan bekas wilayah jajahan Hindia Belanda.

​Pemerintah Jepang secara resmi memberitahukan kepada Soekarno bahwa Tokyo telah memutuskan untuk menyerahkan wewenang kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Komitmen janji politik yang selama bertahun-tahun didengungkan akhirnya diberi batas waktu konkret oleh otoritas militer tertinggi Jepang di Asia Tenggara.

Baca juga :