BERITA keracunan massal yang menimpa siswa sekolah dasar akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus terulang. Peristiwa ini bukan sekadar insiden, melainkan tragedi ironis yang terus menghantui kita. Program yang seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan gizi dan kecerdasan anak bangsa, justru berubah menjadi bom waktu yang membahayakan nyawa mereka. Setiap kali kasus ini mencuat, kita sibuk mencari kambing hitam di hilir: penyedia katering, petugas distribusi, atau bahkan pihak sekolah.
Padahal, akar masalah sesungguhnya terletak pada kelemahan sistemik di hulu, yaitu model penyediaan makanan yang terpusat dan berisiko tinggi. Mari kita bedah alur sistem yang berjalan sekarang.
Untuk melayani ribuan siswa, makanan mulai disiapkan di dapur umum raksasa sejak pukul 11 malam. Proses memasak dalam jumlah masif dilakukan pada pukul 4 pagi, lalu didistribusikan pukul 7 pagi untuk tiba di berbagai sekolah. Anak-anak baru menyantap makanan tersebut di jam makan siang.
Ada jeda waktu lebih dari delapan jam antara proses memasak dan konsumsi. Secara ilmu pangan dan kesehatan, jeda waktu sepanjang ini adalah karpet merah bagi pertumbuhan bakteri dan kuman, seperti E. coli atau Staphylococcus aureus.
Se-lezat dan se-bergizi apapun menunya, makanan yang melalui proses tunggu dan distribusi yang panjang sangat rentan terhadap kontaminasi. Inilah resep pasti menuju bencana keracunan.