Jakarta, Gesuri.id - Pada tanggal 12 Agustus, ketika kami bersiap meninggalkan Saigon kembali ke tanah air, beban di puncaknya terasa kian menghimpit jiwaku. Aku membawa pulang sebuah kepastian bahwa Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia telah disahkan dan kita diperbolehkan menentukan nasib sendiri. Namun di dalam dadaku, aku tahu bahwa kemerdekaan yang sejati tidak pernah ditentukan oleh kalender yang ditulis oleh Marsekal Terauchi di Vietnam, melainkan oleh keberanian rakyat Indonesia sendiri untuk berdiri di atas kaki sendiri. Aku meninggalkan Dalat bukan sebagai pahlawan yang diberi hadiah, melainkan sebagai seorang pemimpin yang membawa api revolusi yang harus segera dinyalakan.
Bung Karno, dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Dalam buku otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno merekam dengan sangat tajam pergolakan pikirannya pada tanggal 12 Agustus 1945 ketika bersiap meninggalkan Vietnam.
Penjabaran dari refleksi Bung Karno pada 12 Agustus tersebut mengungkapkan strategi puncaknya dalam menghadapi masa transisi kekuasaan. Bagi Bung Karno, hasil perundingan pada 12 Agustus adalah sebuah taktik politik tingkat tinggi.
Ia berhasil mendapatkan pengakuan legal dari otoritas pendudukan Jepang tanpa harus menjanjikan komitmen apa pun yang merugikan rakyat Indonesia.