Bantah Isu “Dua Kaki” dari Tempo, Hasto Tegaskan Partai Berpijak pada Ideologi

Narasi “dua kaki” tidak mencerminkan realitas politik PDI Perjuangan.
Sabtu, 04 April 2026 15:46 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Jakarta, Gesuri.id Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membantah anggapan partainya bermain dua kaki sebagaimana disebut dalam laporan Bocor Alus oleh Tempo merupakan diksi yang tidak tepat dan menyesatkan secara konseptual. Menurutnya, PDI Perjuangan justru bergerak dalam satu garis ideologis yang kokoh, berakar pada pemikiran Bung Karno dan dijalankan melalui fungsi kader yang utuh.

Hasto menjelaskan, sebagai organisasi politik, partai ibarat tubuh manusia yang memiliki otak, mata, dan otot. Kader PDI Perjuangan berperan sebagai otak yang membangun kepemimpinan intelektual melalui analisis kritis terhadap realitas sosial. Dengan pendekatan dialektis, kader dituntut memahami hubungan sebab-akibat dari setiap fenomena, sekaligus merancang praksis ideologis yang berpihak pada rakyat.

Selain itu, kader juga berfungsi sebagai mata partai yang peka terhadap ketidakadilan. Mereka harus mampu melihat realitas secara objektif, namun tetap memiliki keberpihakan pada rakyat kecil, kaum marhaen, serta kelompok yang termarjinalkan. Kepekaan sosial menjadi dasar dalam menentukan sikap politik partai, ujar Hasto.

Lebih lanjut, kader sebagai otot partai berperan sebagai penggerak. Apa yang dipikirkan dan dilihat harus diwujudkan menjadi tindakan politik yang membebaskan, mencerdaskan, dan memperkuat kekuatan rakyat di akar rumput. Ketiga fungsi tersebut, kata Hasto, bekerja dalam satu kesatuan yang dipimpin oleh ideologi.

Menanggapi isu dua kaki, Hasto menyatakan bahwa dalam konteks politik, analogi tersebut justru mencerminkan keseimbangan. Politik satu kaki tidak kokoh dan mudah dijegal. Manusia diciptakan dengan dua kaki yang bergerak seirama dalam keseimbangan, jelasnya. Ia menambahkan bahwa dalam tradisi pemikiran Bung Karno, terdapat dialektika antara spektrum progresif (kiri) dan konservatif (kanan) yang harus dipahami kader secara utuh.

Baca juga :