Ikuti Kami

Bantah Isu “Dua Kaki” dari Tempo, Hasto Tegaskan Partai Berpijak pada Ideologi

Narasi “dua kaki” tidak mencerminkan realitas politik PDI Perjuangan.

Bantah Isu “Dua Kaki” dari Tempo, Hasto Tegaskan Partai Berpijak pada Ideologi
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto - Foto: DPP PDI Perjuangan

Jakarta, Gesuri.id – Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membantah anggapan partainya “bermain dua kaki” sebagaimana disebut dalam laporan Bocor Alus oleh Tempo merupakan diksi yang tidak tepat dan menyesatkan secara konseptual. Menurutnya, PDI Perjuangan justru bergerak dalam satu garis ideologis yang kokoh, berakar pada pemikiran Bung Karno dan dijalankan melalui fungsi kader yang utuh.

Hasto menjelaskan, sebagai organisasi politik, partai ibarat tubuh manusia yang memiliki otak, mata, dan otot. Kader PDI Perjuangan berperan sebagai “otak” yang membangun kepemimpinan intelektual melalui analisis kritis terhadap realitas sosial. Dengan pendekatan dialektis, kader dituntut memahami hubungan sebab-akibat dari setiap fenomena, sekaligus merancang praksis ideologis yang berpihak pada rakyat.

Selain itu, kader juga berfungsi sebagai “mata” partai yang peka terhadap ketidakadilan. Mereka harus mampu melihat realitas secara objektif, namun tetap memiliki keberpihakan pada rakyat kecil, kaum marhaen, serta kelompok yang termarjinalkan. “Kepekaan sosial menjadi dasar dalam menentukan sikap politik partai,” ujar Hasto.

Lebih lanjut, kader sebagai “otot” partai berperan sebagai penggerak. Apa yang dipikirkan dan dilihat harus diwujudkan menjadi tindakan politik yang membebaskan, mencerdaskan, dan memperkuat kekuatan rakyat di akar rumput. Ketiga fungsi tersebut, kata Hasto, bekerja dalam satu kesatuan yang dipimpin oleh ideologi.

Menanggapi isu “dua kaki”, Hasto menyatakan bahwa dalam konteks politik, analogi tersebut justru mencerminkan keseimbangan. “Politik satu kaki tidak kokoh dan mudah dijegal. Manusia diciptakan dengan dua kaki yang bergerak seirama dalam keseimbangan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dalam tradisi pemikiran Bung Karno, terdapat dialektika antara spektrum progresif (kiri) dan konservatif (kanan) yang harus dipahami kader secara utuh.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa PDI Perjuangan bukanlah partai yang ambigu. Dalam isu geopolitik, partai mengambil sikap tegas berlandaskan amanat konstitusi bahwa penjajahan harus dihapuskan. PDI Perjuangan, kata Hasto, menjadi satu-satunya partai di Indonesia yang berani mengkritik keras tindakan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta bersikap kritis terhadap kebijakan pengiriman TNI ke Gaza tanpa mandat PBB.

Di dalam negeri, PDI Perjuangan juga menempatkan diri sebagai penyeimbang terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Melalui fraksinya di DPR RI, partai secara konsisten menyampaikan laporan kepada rakyat serta mengkritisi berbagai kebijakan yang dinilai menyimpang, termasuk isu bantuan sosial, kebijakan impor, hingga tekanan terhadap kelompok kritis.

Meski demikian, Hasto menekankan bahwa hubungan antara partai dan pemerintah tetap berjalan dalam koridor konstitusi. Ia menyebut bahwa sebagai kepala negara, Presiden memiliki legitimasi dalam mengambil keputusan politik, sementara partai menjalankan fungsi kontrol sebagai bagian dari sistem demokrasi.

Hasto juga mengingatkan bahwa sikap konsisten PDI Perjuangan telah teruji sejak masa Orde Baru. Di tengah tekanan dan represi, termasuk penyerangan terhadap kantor partai, PDI tetap memilih jalan konstitusional dalam memperjuangkan demokrasi. “Itu adalah keteguhan pada prinsip, bukan politik dua kaki,” tegasnya.

Terkait pemerintahan Joko Widodo, Hasto menyebut partainya mengambil sikap kritis ketika arah kekuasaan dinilai menyimpang dan dipengaruhi kepentingan keluarga. PDI Perjuangan bahkan mencatat berbagai persoalan serius dalam Pemilu 2024, mulai dari dugaan intervensi lembaga negara hingga penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan elektoral.

Sebagai bentuk tanggung jawab politik, partai mengambil langkah tegas dengan memecat sejumlah kader, termasuk Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dan Bobby Nasution. “Ini adalah upaya membangun kultur politik yang sehat dan berintegritas,” ujar Hasto.

Dengan demikian, ia menegaskan bahwa narasi “dua kaki” tidak mencerminkan realitas politik PDI Perjuangan. “Partai ini berdiri kokoh pada ideologi, bersikap tegas, dan konsisten dalam memperjuangkan demokrasi serta keadilan sosial,” pungkasnya.

Quote