DAHULU, ruang perjuangan anak muda bernama gedung pertemuan, sekretariat, dan mimbar organisasi. Kini, sebagian ruang itu berpindah ke layar, kode pemrograman, kecerdasan buatan, dan jejaring digital yang bergerak tanpa batas.
Perubahan zaman seharusnya tidak membuat politik kehilangan anak muda. Justru sebaliknya, politik harus membuka pintu lebih lebar agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, penggembira, atau objek mobilisasi.
Di sinilah gagasan Merah Muda Cerdas dan Merah Muda Inovatif menemukan relevansinya. Anak muda perlu diberi ruang untuk berpikir, bereksperimen, mencipta, sekaligus ikut menentukan arah perubahan politik dan kebangsaan.
Selama bertahun-tahun, politik konvensional terlalu sering menempatkan anak muda sebagai massa. Mereka hadir ketika dibutuhkan, membuat konten ketika diminta, turun ke lapangan ketika dikerahkan, tetapi belum selalu dilibatkan ketika keputusan strategis dirumuskan.
Pola seperti itu sudah waktunya berubah. Anak muda bukan sekadar tenaga tambahan bagi mesin politik, melainkan sumber gagasan untuk memperbarui cara politik bekerja.