Jakarta, Gesuri.id - Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami sangat terguncang karenanya, ungkap Sukarno saat penerbangan Singapura-Saigon dalam rangka memenuhi panggilan Panglima Perang Tertinggi Jepang Wilayah Selatan (Asia Tenggara) Jenderal Besar Terauchi Hisaichi.
Diketahui, Panglima Perang Tertinggi Jepang Wilayah Selatan (Asia Tenggara) Jenderal Besar Terauchi Hisaichi memanggil tiga anggota PPKI, yaitu Sukarno, Hatta, dan Radjiman, untuk datang ke markasnya di Dalat, Vietnam, pada 8 Agustus 1945.
Pesawat berguncang hebat karena melewati daerah turbulensi. Guncangan pesawat membuat semua barang di dalam kabin berantakan. Hal itu menambah kecut hati semua rombongan Sukarno.
Kecemasan mereka bertambah karena mereka belum tahu alasan dipanggil Terauchi itu. Baru pada 12 Agustus 1945 pagi-pagi sekali, mereka berangkat menuju Dalat. Mereka dijadwalkan bertemu dengan Terauchi sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah bertemu, ketiganya baru lega mendengar bahwa Jepang akan segera memerdekakan Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Terauchi mengatakan Tokyo memutuskan memberikan kemerdekaan kepada seluruh wilayah Hindia Belanda, tapi tidak termasuk Malaya dan bekas wilayah jajahan Inggris di Kalimantan. Sesudah itu, Terauchi memberikan selamat kepada Sukarno, Hatta, dan Radjiman, yang kemudian diikuti seluruh staf di markas besar pasukan Jepang ikut menyalami mereka.