Ikuti Kami

Bung Karno: Hanya Bangsa yang Berani Mengambil Nasib Dalam Tangan Sendiri, Akan Dapat Berdiri dengan Kuat

Perhatian pergerakan nasional berpusat pada kepemimpinan Ir. Soekarno (Bung Karno) yang baru saja memegang tongkat kepemimpinan.

Bung Karno: Hanya Bangsa yang Berani Mengambil Nasib Dalam Tangan Sendiri, Akan Dapat Berdiri dengan Kuat
Bung Karno. (kompas.com)

Jakarta, Gesuri.id - Peristiwa pada 8 Agustus 1945 merupakan salah satu tonggak sejarah paling krusial dalam masa transisi menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pada hari tersebut, perhatian pergerakan nasional berpusat pada kepemimpinan Ir. Soekarno (Bung Karno) yang baru saja memegang tongkat kepemimpinan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai.

Saat memimpin PPKI dan menghadapi tekanan situasi Agustus 1945, Bung Karno melontarkan kiasan ikonik yang menggambarkan betapa dekatnya kemerdekaan Indonesia:

"Kalau dahulu saya berkata: 'Sebelum jagung berbuah, Indonesia akan merdeka', sekarang saya dapat memastikan: 'Sebelum jagung berbunga, Indonesia akan merdeka!'"

— Ir. Soekarno (Menggambarkan percepatan momentum kemerdekaan dari hitungan bulan menjadi hitungan hari).

Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno menjelaskan prinsip dasar dalam memimpin PPKI, bahwa janji politik Jepang hanyalah sarana diplomasi, sedangkan kemerdekaan sejati harus diambil oleh tangan bangsa sendiri:

"Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuat."
  
— Ir. Soekarno (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Pengukuhan Kepemimpinan PPKI

Sehari sebelumnya, yakni 7 Agustus 1945, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPK) resmi dibubarkan oleh pihak Jepang karena dianggap telah menyelesaikan tugasnya menyusun draf dasar negara dan UUD. Sebagai gantinya, dibentuklah PPKI.  

Pada 8 Agustus 1945, Soekarno secara resmi bertindak dalam kapasitas barunya sebagai Ketua PPKI, dengan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua dan Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat sebagai anggota senior.  

Panggilan Mendadak dari Panglima Terauchi

Pada tanggal 8 Agustus 1945, situasi militer Jepang di Asia Tenggara sedang berada di ambang kehancuran pasca-penjatuhan bom atom Hiroshima oleh Sekutu pada 6 Agustus 1945. 

Pada hari itu, Bung Karno bersama Hatta dan Radjiman menerima panggilan mendadak dan rahasia dari Markas Besar Tentara Pendudukan Jepang.

Panggilan tersebut datang langsung dari Marsekal Hisaichi Terauchi, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jepang untuk Wilayah Selatan yang bermarkas di Dalat (Vietnam Selatan).

Persiapan Misi Diplomatik Berbahaya

Sepanjang hari 8 Agustus 1945, Bung Karno memimpin persiapan penerbangan rahasia menuju Dalat. Misi ini dinilai sangat berbahaya karena mereka harus melintasi kawasan udara Asia Tenggara yang dikuasai armada Sekutu tanpa jaminan keselamatan penuh.  

Penerbangan delegasi PPKI tersebut akhirnya bertolak dari Bandara Kemayoran, Jakarta, pada dini hari tanggal 9 Agustus 1945.

Misi menegangkan ke Vietnam dimulai pada 8 Agustus 1945 jelang tengah malam. Penerbangan ke Dalat sengaja dilakukan secara rahasia lantaran gentingnya situasi kala itu. 

Dari Bandara Kemayoran, pesawat yang membawa tiga bapak bangsa Indonesia dengan kawalan beberapa perwira Jepang itu tidak langsung ke Vietnam.

Tanggal 9 Agustus 1945 pagi, pesawat mendarat di Singapura untuk singgah sejenak sembari memantau situasi. Diwaktu bersamaan, Kota Nagasaki Jepang pun dibom nuklir tentara sekutu.

Singkat cerita, tanggal 11 Agustus 1945, perjalanan dilanjutkan ke Dalat dan tiba di hari yang sama, Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman beserta rombongan harus menunggu keesokan hari sesuai jadwal pertemuan dengan Marsekal Terauchi. (Berbagai Sumber)

Quote