Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, menantang Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Barat untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil peran lebih strategis dalam pembangunan daerah. Menurutnya, KAHMI tidak cukup hanya menjadi kekuatan moral, tetapi harus mampu menjadi mesin pencetak sumber daya manusia (SDM) unggul, pusat riset, sekaligus penggerak inovasi.
Inilah ironi kita. Basis industrinya luar biasa besar, tapi IPM Jawa Barat 2025 baru di angka 75,90. Tingkat kemiskinan per September 2025 masih 6,78 persen atau sekitar 3,55 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Gini Ratio 0,397 menunjukkan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah, kata Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) ini.
Tantangan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin dalam Seminar Nasional Musyawarah Wilayah VII KAHMI Jawa Barat bertema Transformasi Keumatan Menuju Jawa Barat Istimewa di Grand Asrilia Hotel Convention, Bandung, Sabtu (8/8). Di hadapan ratusan alumni HMI dari 27 kota/kabupaten se-Jawa Barat, Anggota Komisi IV DPR RI 20242029 itu mengusung gagasan besar redesign mindset menuju insan cita melalui SDM unggul, meritokrasi, inovasi, dan kolaborasi pentahelix.
Prof. Rokhmin yang juga Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 memaparkan paradoks pembangunan Jawa Barat dengan sejumlah data. Di satu sisi, Jawa Barat merupakan salah satu raksasa ekonomi nasional. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat tercatat mencapai sekitar Rp3,04 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,32 persen.
Tulang punggung perekonomian Jawa Barat adalah sektor industri pengolahan yang menyumbang 40,41 persen terhadap PDRB. Menurut Prof. Rokhmin, kondisi tersebut merupakan modal ekonomi yang sangat besar dan tidak dimiliki semua provinsi.