Catatan Akhir Tahun Perdagangan, Negara Tak Boleh Netral Saat Pasar Global Makin Timpang

Oleh: Anggota Komisi VI DPR RI, Ketua DPP PDI Perjuangan, Darmadi Durianto.
Rabu, 31 Desember 2025 05:59 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Di tengah ekonomi global yang semakin terfragmentasi, perdagangan internasional tidak lagi bisa dipahami sebagai aktivitas netral antara penjual dan pembeli lintas negara. Perdagangan kini menjadi arena persaingan kekuatan modal, teknologi, dan kepentingan geopolitik. Karena itu, evaluasi akhir tahun kebijakan perdagangan nasional harus diletakkan dalam kerangka yang lebih jujur dan struktural: apakah perdagangan Indonesia benar-benar memperkuat ekonomi nasional, atau justru memperdalam ketergantungan.

Perdagangan adalah wajah kehadiran negara di pasar. Jika negara bersikap netral, maka pasar akan dikuasai oleh mereka yang paling kuat modal dan teknologinya, bukan oleh pelaku usaha nasional, tegas Darmadi Durianto, Anggota Komisi VI DPR RI.

Pernyataan ini penting untuk membaca kinerja Kementerian Perdagangan Republik Indonesia sepanjang tahun berjalanbukan hanya dari sisi realisasi program, tetapi dari arah kebijakan dan keberpihakan jangka panjangnya.

Perdagangan Global Tidak Pernah Netral

Pandangan bahwa perdagangan bebas otomatis menciptakan kesejahteraan telah lama dikritik para ekonom dunia. Paul Krugman melalui New Trade Theory menegaskan bahwa perdagangan justru cenderung menciptakan konsentrasi pasar akibat skala ekonomi dan dominasi korporasi besar.

Baca juga :