Hardiknas dan Daycare dalam Perspektif Pendidikan Dini

Oleh: Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ansari.
Minggu, 03 Mei 2026 07:45 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Hari Pendidikan Nasional selalu mengajak kita untuk kembali melihat makna pendidikan secara lebih luas. Bahwa pendidikan tidak dimulai dari papan tulis atau ruang kelas, tetapi dari sentuhan pertama pengasuhan yang diterima anak dalam kesehariannya. Pada titik inilah, keluarga, lingkungan, dan ruang-ruang pengasuhan menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Dalam perjalanan saya sebelum berada di DPR RI, saya pernah mengabdikan diri sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selama kurang lebih 14 tahun. Pengalaman itu membentuk cara pandang saya hingga hari ini, bahwa ada fase awal kehidupan, anak tidak hanya belajar mengenal huruf atau angka, tetapi juga belajar merasa aman, dipercaya, dan dihargai sebagai individu.

Di usia itu, anak menyerap banyak hal dari lingkungan terdekatnya. Cara orang dewasa berinteraksi, bagaimana mereka diperlakukan, hingga suasana emosional yang mereka rasakan, semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang sangat mendasar. Karena itu, lingkungan pengasuhan sejatinya adalah sekolah pertama bagi setiap anak.

Hari ini, realitas sosial menunjukkan bahwa semakin banyak orang tua, khususnya keluarga muda, yang harus menjalani peran ganda antara bekerja dan mengasuh anak. Kondisi ini tidak selalu mudah. Tuntutan ekonomi, dinamika pekerjaan, dan perubahan gaya hidup membuat kebutuhan akan layanan pengasuhan anak di luar rumah menjadi semakin nyata.

Dalam situasi tersebut, daycare hadir sebagai salah satu solusi yang banyak dipilih. Ia menjadi ruang alternatif bagi orang tua untuk memastikan anak tetap dalam pengasuhan ketika mereka harus menjalankan aktivitas di luar rumah. Di banyak kota, keberadaan daycare bahkan menjadi bagian dari kebutuhan dasar keluarga modern.

Baca juga :