Jakarta, Gesuri.id – PDI Perjuangan melontarkan kritik pedas terhadap aksi pembagian paket sembako dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Partai berlambang banteng moncong putih tersebut menilai bagi-bagi bingkisan bukan jawaban atas akar persoalan yang menjerat kaum pekerja.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning, menyebut pemberian sembako senilai Rp100.000 hanya sekadar "permen" untuk meredam tuntutan riil buruh. Kritik ini disampaikannya dalam peringatan May Day internal PDI Perjuangan di Jakarta, Minggu (3/5).
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
"Kemarin saya lihat 1 Mei, buruh hanya dikasih sembako. Paling harganya Rp100.000, tapi tidak menyelesaikan persoalan. Outsourcing masih tetap outsourcing. Buruh tidak menuntut kemewahan, buruh menuntut keadilan dan kesejahteraan!" tegas politisi yang akrab disapa Mbak Ning tersebut.
Ribka juga menyoroti ironi antara klaim pemerintah dengan realitas ekonomi di lapangan. Ia memaparkan adanya jurang lebar antara kenaikan upah dan harga kebutuhan pokok:
- Klaim Pemerintah: Upah buruh naik 20%.
- Realitas Lapangan: Harga kebutuhan pokok melonjak hingga 50%.
"Sama saja bohong. Buruh hanya dikasih gula-gula saja. Kita seperti hidup di zaman VOC, belum ada kepastian hidup di Republik ini karena regulasi belum sepenuhnya berpihak pada buruh," cetus Ribka merujuk pada UU Ketenagakerjaan.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Senada dengan Ribka, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyayangkan pergeseran esensi May Day di Monas yang cenderung berubah menjadi acara hiburan. Menurutnya, ada sejarah perjuangan kelas pekerja yang terlupakan dalam kemasan acara "senang-senang" tersebut.
Perayaan May Day di Monas sebelumnya dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Usai acara, para buruh menerima goodie bag putih bertuliskan "Istana Kepresidenan Republik Indonesia". Paket tersebut berisi kebutuhan harian seperti, Beras, gula, teh, dan kopi, mentega, susu kental manis, serta sarden kaleng.
Meskipun disambut oleh sebagian peserta, aksi bagi-bagi bingkisan ini justru menjadi pemantik diskusi hangat mengenai efektivitas kebijakan pemerintah dalam menyejahterakan buruh secara jangka panjang.

















































































