Ikuti Kami

Hardiknas dan Daycare dalam Perspektif Pendidikan Dini

Oleh: Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ansari.

Hardiknas dan Daycare dalam Perspektif Pendidikan Dini
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ansari.

Jakarta, Gesuri.id - Hari Pendidikan Nasional selalu mengajak kita untuk kembali melihat makna pendidikan secara lebih luas. Bahwa pendidikan tidak dimulai dari papan tulis atau ruang kelas, tetapi dari sentuhan pertama pengasuhan yang diterima anak dalam kesehariannya. Pada titik inilah, keluarga, lingkungan, dan ruang-ruang pengasuhan menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Dalam perjalanan saya sebelum berada di DPR RI, saya pernah mengabdikan diri sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selama kurang lebih 14 tahun. Pengalaman itu membentuk cara pandang saya hingga hari ini, bahwa ada fase awal kehidupan, anak tidak hanya belajar mengenal huruf atau angka, tetapi juga belajar merasa aman, dipercaya, dan dihargai sebagai individu.

Di usia itu, anak menyerap banyak hal dari lingkungan terdekatnya. Cara orang dewasa berinteraksi, bagaimana mereka diperlakukan, hingga suasana emosional yang mereka rasakan, semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang sangat mendasar. Karena itu, lingkungan pengasuhan sejatinya adalah “sekolah pertama” bagi setiap anak.

Hari ini, realitas sosial menunjukkan bahwa semakin banyak orang tua, khususnya keluarga muda, yang harus menjalani peran ganda antara bekerja dan mengasuh anak. Kondisi ini tidak selalu mudah. Tuntutan ekonomi, dinamika pekerjaan, dan perubahan gaya hidup membuat kebutuhan akan layanan pengasuhan anak di luar rumah menjadi semakin nyata.

Dalam situasi tersebut, daycare hadir sebagai salah satu solusi yang banyak dipilih. Ia menjadi ruang alternatif bagi orang tua untuk memastikan anak tetap dalam pengasuhan ketika mereka harus menjalankan aktivitas di luar rumah. Di banyak kota, keberadaan daycare bahkan menjadi bagian dari kebutuhan dasar keluarga modern.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Namun, di balik meningkatnya kebutuhan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak bisa diabaikan: apakah semua daycare telah benar-benar menjadi ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak?

Sejumlah peristiwa yang sempat menjadi perhatian publik di beberapa daerah, seperti di Aceh dan Yogyakarta, memberi kita sinyal bahwa masih ada hal yang perlu dibenahi. Tanpa harus mengulas detail kasus, kejadian-kejadian tersebut cukup untuk menggugah kesadaran kita bahwa layanan pengasuhan anak membutuhkan perhatian yang serius.

Kepercayaan orang tua adalah fondasi utama dalam layanan daycare. Ketika kepercayaan itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang tua, tetapi juga oleh anak yang berada dalam masa perkembangan yang sangat sensitif. Rasa aman yang seharusnya mereka dapatkan bisa terganggu, dan hal ini tentu tidak boleh dianggap sepele.

Sebagai seseorang yang pernah berada langsung di dunia pendidikan anak usia dini, saya memahami betul bahwa pengasuhan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia membutuhkan kesabaran, pengetahuan, serta kepekaan terhadap kebutuhan anak. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, dan pendekatan pengasuhan harus mampu menyesuaikan dengan hal tersebut.

Karena itu, daycare tidak bisa dipandang sekadar sebagai tempat menitipkan anak. Ia adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Di dalamnya, anak belajar bersosialisasi, mengenal aturan, mengelola emosi, dan membangun kemandirian secara bertahap.

Sebagai Anggota Komisi VIII DPR RI yang salah satu mitra kerjanya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), saya melihat bahwa penguatan layanan daycare harus menjadi perhatian bersama. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan dan pengasuhan yang layak, di manapun mereka berada.

Kita tidak memulai dari nol. Regulasi tentang perlindungan anak telah memberikan dasar yang cukup kuat. Namun demikian, tantangan terbesar sering kali terletak pada implementasi di lapangan. Perbedaan kapasitas antar daerah, keterbatasan sumber daya, serta belum meratanya pemahaman tentang standar pengasuhan menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap daycare diperkirakan akan terus meningkat. Partisipasi perempuan dalam dunia kerja yang semakin tinggi menunjukkan bahwa layanan pengasuhan anak di luar rumah akan semakin dibutuhkan. Hal ini perlu diimbangi dengan kesiapan sistem yang memadai, baik dari sisi jumlah layanan maupun kualitasnya.

Kondisi ini menuntut adanya langkah yang lebih terarah dan berkelanjutan. Standar layanan daycare perlu diperkuat agar benar-benar menjamin aspek keamanan, kesehatan, dan perkembangan anak. Standar ini harus dapat dipahami dan diterapkan oleh seluruh penyelenggara layanan, baik yang berskala besar maupun kecil.

Selain itu, penguatan kapasitas pengasuh menjadi hal yang sangat penting. Pengasuh tidak hanya berperan menjaga anak, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan mereka. Oleh karena itu, pelatihan dan peningkatan kompetensi perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pengawasan juga harus dilakukan secara aktif dan konsisten. Tidak cukup hanya bersifat administratif, tetapi perlu diikuti dengan pemantauan langsung di lapangan. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan setiap layanan daycare berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

Di sisi lain, transparansi dari pengelola daycare juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan. Orang tua berhak mengetahui bagaimana anak mereka diasuh, aktivitas apa yang dilakukan, serta bagaimana lingkungan tempat anak mereka berada setiap harinya.

Tidak kalah penting, literasi masyarakat juga perlu diperkuat. Orang tua perlu memiliki pemahaman yang cukup dalam memilih layanan daycare yang aman dan sesuai dengan kebutuhan anak. Kesadaran ini akan membantu mendorong peningkatan kualitas layanan secara keseluruhan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperluas cara pandang kita. Bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah formal, tetapi juga dalam setiap interaksi dan pengalaman yang diterima anak sejak usia dini.

Dari pengalaman saya sebagai pendidik, saya meyakini bahwa apa yang ditanamkan pada masa awal kehidupan akan membentuk dasar karakter anak di masa depan. Karena itu, kualitas pengasuhan tidak boleh dianggap sebagai hal yang sekunder.

Daycare harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sumber kekhawatiran. Ia harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Pada akhirnya, tanggung jawab terhadap anak adalah tanggung jawab bersama. Negara, masyarakat, pengelola layanan, dan keluarga memiliki peran masing-masing dalam memastikan anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman.

Sebab dari cara kita merawat mereka hari ini, kita sedang menentukan arah masa depan bangsa.

*) Ansari sempat mengabdi sebagai guru PAUD selama 14 tahun sebelum mendapatkan amanah sebagai legislator di Senayan.

Quote