Jakarta, Gesuri.id - Seperti yang sudah saya duga dan berulang kali saya sampaikan, penerimaan pajak tahun 2025 akan jeblok. Target APBN sebesar Rp 2.187 triliun praktis mustahil tercapai. Bahkan target Lapsem yang sudah dikoreksi menjadi Rp 2.077 triliun pun tetap di luar jangkauan. Penyesuaian terakhir Menteri Keuangan kepada DJP di bulan Desember ke angka Rp 2.005 triliun juga gagal diraih. Lebih mengkhawatirkan lagi, jika realisasi penerimaan akhir 2025 berada di bawah capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.932 triliun.
Ini bukan sekadar meleset dari target. Ini alarm keras.
Penerimaan yang terjun bebas ini bukan tanpa konsekuensi. Defisit akan melebar, pembayaran subsidi berisiko tertunda, dan sebagian program strategis yang sudah dirancang dengan penuh optimisme terpaksa dikorbankan. APBN kehilangan daya topangnya, sementara kebutuhan justru semakin besar.
Baca:Mengenal SosokGanjarPranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Padahal sinyal bahaya ini sudah terbaca sejak jauh hari. Sudah diperingatkan berulang kali. Namun yang terjadi justru sebaliknya, peringatan itu diabaikan. Energi habis untuk saling menyalahkan, melempar tanggung jawab ke pejabat lama yang dianggap gagal mengelola perekonomian dari Januari hingga September. Sayangnya, tuding-menuding tidak pernah disertai koreksi kebijakan yang serius dan introspeksi yang jujur. Akibatnya mudah ditebak, optimisme kosong tidak pernah cukup untuk mengangkat penerimaan pajak yang sudah terpuruk.