Menjernihkan Perihal APBN 2026

Oleh : Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR RI.
Senin, 11 Mei 2026 13:37 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Belakangan santer beredar isu dan kabar, saldo APBN menipis, defisit APBN akan menyentuh lebih dari 3 persen di akhir tahun, bahkan isu tentang APBN 2026 bisa jebol. Santernya isu ini beriringan pula dengan situasi ekonomi makro yang digambarkan kurang baik, ditambah dengan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikar (AS).

Kita harus apresiasi dan respon bijak sejumlah kritik, dan alarm untuk waspada dari sejumlah pengamat, dan akademisi tersebut. Saya menganggapnya itu sebagai rasa sayang dan peduli. Yang kita khawatir kalau sudah apatis sehingga ada keengganan untuk berbicara, justru inilah yang tidak kita inginkan.

Namun diluar ekspektasi sejumlah pihak, nyatanya kita bisa tumbuh 5,6 persen. Memang ada faktor musiman, yakni ramadhan dan lebaran yang mendorong tingkat permintaan rumah tangga. Faktor musiman itu menggerakkan industri, perdagangan, transportasi, hotel dan restoran sebagai penopang pertumbuhan.

Di sisi lain, belanja pemerintah yang biasanya baru bisa berjalan cepat di kuartal II, namun kali bisa lebih cepat, sehingga kuartal I 2026 belanja pemerintah bisa tumbuh 21,81 % (yoy), dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi sebesar 1,26 % . Strategi ini patut kita apresiasi.

Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan ketahanan (resiliensi) yang cukup baik, neraca perdagangan masih surplus, 5,5 miliar USD, terjaga positif selama 71 bulan serta pertumbuhan kredit pada perbankan secara umum masih tumbuh positif.

Baca juga :