Setelah Persamuhan di Bandung, 71 Tahun Silam…

Oleh: Anggota DPRD Kota Surabaya, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Eri Irawan.
Minggu, 19 April 2026 07:55 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Setelah persamuhan di Bandung, 71 tahun silam, dunia tidak banyak berubah. Perang Dingin memang tak lagi ada. Komunisme sebagai sistem politik pemerintahan sudah selesai. Tembok Berlin sudah runtuh.

Partai Komunis bertahan, namun tidak ada yang bisa mengingkari kalau mereka hanya simbol yang mempertautkan Tiongkok hari ini dengan masa silam. Korea Utara dan Kuba masih bersikeras dengan ideologi komunis, namun mereka tidak masuk dalam peta negara yang diperhitungkan dunia, kecuali Korea Utara karena kepemilikan nuklirnya.

Kapitalisme dan liberalisme sudah menang atas musuh klasik mereka, dan kini sedang mencari musuh baru untuk diseru-serukan sebagai ancaman. Dan karenanya, apa yang dikatakan Bung Karno dalam pidatonya di Konferensi Asia Afrika (KAA), 18 April 1955, 71 tahun silam, masih sangat relevan dan berkorelasi dengan kondisi hari ini: sebuah seruan dari masa lampau untuk senantiasa waspada dan tak lengah.

Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan, kehidupan manusia sekarang digerogoti dan dijadikan pahit getir oleh rasa ketakutanMungkin rasa takut itu pada hakekatnya merupakan bahaya yang lebih besar daripada bahaya itu sendiri, sebab rasa takutlah yang mendorong orang berbuat tolol, berbuat tanpa berpikir, berbuat hal yang membahayakan.

Saat Amerika Serikat dan Israel bermufakat untuk membombardir Iran, dan belakangan Lebanon, tahulah kita bahwa ketakutan itu masih hadir di depan mata. Seperti film horor hantu-hantu dan setan yang membuat jantung berdetak kencang dan berkeringat dingin. Situasi dunia hari-hari ini serupa yang pernah diingatkan Bung Karno pada KAA Bandung, Kita menghadapi situasi, di mana keselamatan umat manusia tidak selalu mendapat perhatian utama. Banyak orang yang berada di tempat kekuasaan yang tinggi malah lebih memikirkan tentang hal menguasai dunia.

Baca juga :