Soeharto Bukan Pahlawan: Jejak Darah 1965-66 dan Ambisi Kekuasaan

Ide menjadikan Soeharto pahlawan terasa seperti membuka luka lama bangsa yang belum sempat disembuhkan.
Selasa, 04 November 2025 12:30 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Jakarta, Gesuri.id Ketika nama Soeharto disebut sebagai pahlawan nasional, penting untuk mengingat sisi gelap sejarah yang melekat erat pada perjalanan kariernya. Ikhtisar riset terbaru memberi gambaran bahwa peristiwa pembunuhan massal 1965-66 yang korban diperkirakan antara 500.000 hingga 1.000.000 orang tidak hanya reaksi spontan atas usaha kudeta, melainkan bagian dari mekanisme kekuasaan yang terstruktur. Hal itu dilansir dari jurnal Cambridge dengan judul New Findings on the Indonesian Killings of 196566.

Meskipun banyak buku, film dokumenter dan penelitian menegaskan bahwa militer Indonesia, di bawah kendali Soeharto saat itu, memainkan peran utama dalam pembersihan anti-komunis, narasi resmi seringkali mengabaikan pertanyaan tanggung jawab individu dan institusi negara. Demikian dikutip dari The State of Knowledge about an Open Secret: Indonesias Mass Disappearances of 196566.

Berikut beberapa fakta sejarah yang perlu dibuka dan dipahami secara jujur bukan untuk menghakimi satu pihak secara emosional, melainkan agar bangsa ini dapat rekonsiliasi dengan masa lalu dan membangun masa depan yang lebih adil.

Dalih G30S, Kekuasaan Militer Pembantaian Massal

Ketika enam jenderal Angkatan Darat dibunuh dalam insiden yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) malam 30 September 1965, militer pimpinan Soeharto segera menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang. Namun riset terbaru menunjukkan bahwa militer sendiri telah mempersiapkan struktur komando dan daerah (Kodam, Kostrad) yang kemudian menjadi instrumen pembersihan massal.

Baca juga :