Soekarno Cup, Banteng Jatim FC dan Sebuah Laboratorium Sepak Bola

Oleh: Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Asisten Manajer Tim Banteng Jatim FC U-17, Eri Irawan.
Rabu, 11 Maret 2026 23:59 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Ini pertanyaan klasik dan klise: apa yang membuat sepak bola Indonesia tidak pernah bisa konsisten menunjukkan prestasi yang gemilang sepanjang masa? Prestasi tertinggi sepak bola kita adalah juara SEA Games, kejuaraan sukan antarbangsa Asia Tenggara. Itu pun dari 33 kali perhelatan, kita hanya memperoleh medali emas pada 1987, 1991, dan 2023.

Piala ASEAN Football Federation (AFF) sama sekali tidak pernah kita rebut sejak pertama kali digelar pada 1996. Enam kali masuk final, enam kali pula pasukan Garuda tumbang.

Harapan justru terlihat di kelompok usia. Sejak diselenggarakan pada 2002, Indonesia menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013 dan 2025. Dua gelar itu diraih saat menjadi tuan rumah, masing-masing di Sidoarjo dan Surabaya. Sementara untuk Piala AFF U-16, Indonesia pernah menjadi juara pada 2018 dalam pertandingan final di Sidoarjo.

Namun sekali lagi, prestasi itu tidak pernah konsisten diraih. Indonesia tidak pernah menjuarai turnamen sepak bola, bahkan di level Asia Tenggara, secara beruntun. Pemain dan pelatih datang dan pergi. Ketua PSSI rutin berganti. Namun prestasi kering. Indonesia seakan-akan kesulitan memenuhi petuah Bung Karno: beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia. Tentu saja sepuluh pemuda bisa diganti sebelas pesepakbola muda.

Apa yang salah? Mungkin kuncinya ada pada konsistensi pembinaan. Pembinaan sepak bola di Indonesia seringkali tidak konsisten. Jadwal berubah-ubah. Format kompetisi berubah-ubah. Sementara itu jenjang pembinaan usia dini relatif kurang mendapat perhatian. Hanya sedikit klub sepak bola yang bertahun-tahun membangun sistem pembinaan usia muda.

Baca juga :