Ikuti Kami

Soekarno Cup, Banteng Jatim FC dan Sebuah Laboratorium Sepak Bola

Oleh: Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Asisten Manajer Tim Banteng Jatim FC U-17, Eri Irawan.

Soekarno Cup, Banteng Jatim FC dan Sebuah Laboratorium Sepak Bola
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Asisten Manajer Tim Banteng Jatim FC U-17, Eri Irawan.

Jakarta, Gesuri.id - Ini pertanyaan klasik dan klise: apa yang membuat sepak bola Indonesia tidak pernah bisa konsisten menunjukkan prestasi yang gemilang sepanjang masa? Prestasi tertinggi sepak bola kita adalah juara SEA Games, kejuaraan sukan antarbangsa Asia Tenggara. Itu pun dari 33 kali perhelatan, kita hanya memperoleh medali emas pada 1987, 1991, dan 2023.

Piala ASEAN Football Federation (AFF) sama sekali tidak pernah kita rebut sejak pertama kali digelar pada 1996. Enam kali masuk final, enam kali pula pasukan Garuda tumbang.

Harapan justru terlihat di kelompok usia. Sejak diselenggarakan pada 2002, Indonesia menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013 dan 2025. Dua gelar itu diraih saat menjadi tuan rumah, masing-masing di Sidoarjo dan Surabaya. Sementara untuk Piala AFF U-16, Indonesia pernah menjadi juara pada 2018 dalam pertandingan final di Sidoarjo.

Namun sekali lagi, prestasi itu tidak pernah konsisten diraih. Indonesia tidak pernah menjuarai turnamen sepak bola, bahkan di level Asia Tenggara, secara beruntun. Pemain dan pelatih datang dan pergi. Ketua PSSI rutin berganti. Namun prestasi kering. Indonesia seakan-akan kesulitan memenuhi petuah Bung Karno: “beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia.” Tentu saja sepuluh pemuda bisa diganti sebelas pesepakbola muda.

Apa yang salah? Mungkin kuncinya ada pada konsistensi pembinaan. Pembinaan sepak bola di Indonesia seringkali tidak konsisten. Jadwal berubah-ubah. Format kompetisi berubah-ubah. Sementara itu jenjang pembinaan usia dini relatif kurang mendapat perhatian. Hanya sedikit klub sepak bola yang bertahun-tahun membangun sistem pembinaan usia muda.

Sepak bola akar rumput atau dalam tradisi sepak bola Inggris disebut “grass roots football,” jarang disentuh. Indra Sjafrie, pelatih timnas Garuda U-19, pernah membuat langkah “nyeleneh” dengan keliling ke pelosok-pelosok kampung dan sudut-sudut desa di sekujur Indonesia untuk menemukan bakat-bakat terpendam yang tidak terpantau klub-klub sepak bola elite.

PDI Perjuangan memahami sepak bola adalah salah satu alat perjuangan bangsa. Sejarah Indonesia menunjukkan, perjuangan di lapangan hijau setara dengan perjuangan diplomasi menegakkan identitas kebangsaan.

Presiden Sukarno memahami peran penting olahraga, termasuk sepak bola, dalam membangun karakter bangsa (nation building). Olahraga menjadi cermin sikap Indonesia yang anti-penjajahan kepada dunia sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Perintah Bung Karno kepada tim nasional untuk menolak berlaga melawan Israel pada kualifikasi Piala Dunia 1958 menunjukkan bagaimana sepak bola adalah penyampai ideologi politik antikolonialisme. 

Sukarno juga memulai spirit perlawanan terhadap imperalisme Barat dengan menggelar pesta olahraga Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang diikuti negara-negara berkembang pada 1963.

Soekarno Cup

Peran strategis olahraga sebagai upaya karakter bangsa ini yang kemudian membuat DPP PDI Perjuangan rutin menggelar Soekarno Cup pada 2023 di Jakarta dan 2025 di Bali; dan akan berlanjut pada 2026 di Surabaya. Soekarno Cup diikuti beragam provinsi di Tanah Air.
 
Turnamen ini merepresentasikan semangat sepak bola sebagai permainan rakyat. Semua pemain yang berpartisipasi tidak pernah bermain di kompetisi Liga 1, Liga 2, dan Elite Pro Academy (EPA). Mereka benar-benar anak-anak muda berusia maksimal 17 tahun dengan dibimbing oleh beberapa pemain senior yang dibatasi di setiap tim.

Turnamen ini ingin membuka ruang dan peluang bagi siapa pun untuk bermain dan berkembang melalui sepak bola. Soekarno Cup didedikasikan untuk memperkuat ekosistem pembinaan sepak bola usia muda. Anak-anak muda kita butuh panggung untuk menguji diri dan timnya, dan di sinilah Soekarno Cup hadir, menjadi alternatif yang saling dukung dengan laga-laga usia muda lainnya, seperti Piala Soeratin dan EPA.

DPD PDI Perjuangan Jawa Timur lantas membentuk Banteng Jatim FC U-17 yang merekrut pemain melalui jalur seleksi di sejumlah daerah untuk menghadapi Soekarno Cup, Juli-Agustus 2026, di Surabaya. Seleksi digelar di lima regional, yaitu Banyuwangi, Blitar, Malang, Bangkalan dan Surabaya; dengan pengaturan jangkauan wilayah masing-masing agar pembinaan berjalan efektif dan merata.

Lebih dari 1.000 talenta muda terlibat dalam proses seleksi yang digelar terbuka dan gratis ini, sebagai wujud komitmen pembinaan sepak bola usia muda yang inklusif dan merata. PDI Perjuangan ingin memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi talenta-talenta muda di Jawa Timur untuk bergabung mempertahankan trofi yang direbut di Bali tahun lalu. PDI Perjuangan Jatim tak hanya ingin mempertahankan gelar, namun juga memastikan proses pembinaan berjalan profesional dan menjangkau seluruh daerah.

Memastikan standar pembinaan berjalan optimal, tim Banteng Jatim U-17 didampingi jajaran pelatih profesional yang memiliki lisensi kepelatihan nasional, asisten pelatih spesialis teknik dan taktik, asisten pelatih kiper, pelatih fisik dengan pemahaman periodisasi latihan usia remaja, analis data, dan fisioterapis guna pencegahan dan penanganan cedera.

Melalui pembentukan tim ini, PDI Perjuangan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat ekosistem pembinaan talenta muda sepak bola di Jawa Timur, dengan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Ini laboratorium pembinaan talenta muda.

Sebagai sebuah laboratorium, tentu turnamen saja tak cukup. Pembentukan tim saja tak cukup. Ke depan, Banteng Jatim FC akan didesain sebagai instrumen pelatihan usia berjenjang dan coaching clinics yang bisa dilakukan di sejumlah kota.

Dan kita berharap, dari laboratorium itu, akan lahir sebelas pesepakbola yang akan mengguncang (Piala) Dunia. Kelak. Semoga.

Quote