Jakarta, Gesuri.id - Usia ke-191 bagi Kabupaten Temanggung bukan sekadar penanda waktu dalam kalender administratif. Ia adalah momen untuk berkacatentang dari mana ia berasal, bagaimana ia tumbuh, dan ke mana ia akan melangkah. Di bawah bayang-bayang Gunung Sindoro dan Sumbing yang menjulang gagah, Temanggung bukan hanya sebuah titik di peta Jawa Tengah.
Ia adalah lanskap keheningan yang penuh kehidupan; perpaduan antara kesuburan tanah dan keteguhan manusia yang setia menanam, merawat, dan berharap.
Kini, di tengah dunia yang bergerak dengan kecepatan algoritma, Temanggung menapaki babak baru: di antara tradisi yang ingin dijaga dan teknologi yang tak bisa dihindari. Di sinilah ujian sejati sebuah daerah: mampukah ia berdiri di antara kabut dan cahaya digital, tanpa kehilangan arah dan jati diri?
Saya melihat, Pemerintah Kabupaten Temanggung di bawah kepemimpinan Bupati Agus Setyawan dan Wakil Bupati Nadia Muna terus menapaki jalan pembangunan yang berorientasi pada manusia. Temanggung menunjukkan wajah baru: tegas dalam arah kebijakan, namun lembut dalam sentuhan kemanusiaan. Pembangunan di sini bukan semata soal jalan yang mulus atau gedung menjulang, tetapi tentang memastikan setiap warga dapat hidup lebih sehat, berdaya, dan bermartabat.