30 Tahun Kudatuli, Aria Bima: Suara Rakyat Tak Boleh Dibungkam, Perbedaan Pendapat Napas Demokrasi Itu Sendiri

Kudatuli adalah titik balik. Di sanalah kesadaran kolektif bangsa ini menyala.
Selasa, 28 Juli 2026 14:01 WIB Jurnalis - Syahrul Arsyad

Jakarta, Gesuri.id - DPC PDI Perjuangan Kota Surakarta menggelar Peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli (27 Juli 1996) bertajuk Merawat Ingatan, Menjaga Demokrasi di Halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Solo, Brengosan, Kelurahan Purwosari, Laweyan, Minggu (26/7/2026) malam.

Ketua DPC PDI Perjuangan Solo Aria Bima menegaskan pergerakan Kudatuli merupakan tonggak penting yang membentuk fondasi demokrasi Indonesia hingga saat ini.

Kudatuli adalah titik balik. Di sanalah kesadaran kolektif bangsa ini menyala, bahwa suara rakyat tidak boleh dibungkam, dan perbedaan pendapat bukanlah ancaman, melainkan napas dari demokrasi itu sendiri, tegas Aria Bima.

Peringatan tersebut dihadiri Sekretaris DPC PDI Perjuangan Solo Rheo Fernandez, Bendahara DPC Bambang Gage Nugroho, tokoh senior partai, serta ratusan kader muda. Acara berlangsung khidmat dengan mengusung semangat merawat ingatan sejarah sekaligus memperkuat komitmen menjaga demokrasi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan puisi 27 Juli: Catatan di Pintu Besi oleh Roro Indradi Sarwo Indah dan geguritan Jawa berjudul Getih lan Luh Ing Latar Diponegoro karya YF Sukasno. Kedua karya sastra tersebut menggambarkan kembali kepedihan dan semangat perjuangan yang lahir dari peristiwa Kudatuli tiga dekade silam.

Baca juga :