TANGGAL 6 Agustus 1945 adalah hari ketika pendulum sejarah dunia berayun dengan sangat keras. Pada pukul 08.15 pagi waktu Jepang, pesawat pengebom B-29 milik Amerika Serikat, Enola Gay, menjatuhkan bom atom bernama Little Boy di atas kota Hiroshima. Dalam sekejap, puluhan ribu nyawa menguap, dan mitos ketangguhan militer kekaisaran Jepang hancur lebur di bawah bayang-bayang awan jamur raksasa.
Ribuan kilometer dari Hiroshima, di Jakarta, langit tampak biasa saja. Mesin sensor dan propaganda tentara pendudukan Jepang (Gunseikanbu) bekerja keras menutup rapat-rapat informasi kehancuran tersebut dari telinga rakyat Indonesia. Namun, sebuah riak kepanikan yang luar biasa tengah menjalar di tingkat elitis militer Jepang, yang secara langsung menyeret Bung Karno ke dalam pusaran catur geopolitik Asia Timur Raya.
Kepanikan Jenderal Terauchi dan Skenario Darurat
Berita kehancuran Hiroshima dengan cepat mencapai Markas Besar Tentara Wilayah Selatan (Southern Expeditionary Army Group) di Dalat, Vietnam. Marsekal Hisaichi Terauchi, Panglima Tertinggi militer Jepang untuk seluruh wilayah Asia Tenggara (Saiko Shikikan), menyadari bahwa napas kekaisarannya tinggal menghitung hari.
Jepang berada dalam posisi sangat terjepit. Sekutu dipastikan akan segera masuk ke wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Jika rakyat Indonesia mengetahui bahwa Jepang sudah lumpuh, ancaman pemberontakan bersenjata berskala nasional akan meledak. Satu-satunya cara untuk mengendalikan situasi adalah dengan segera memberikan janji kemerdekaan kepada para pemimpin Indonesia, agar mereka tetap kooperatif dan dapat menjaga ketertiban hingga Sekutu tiba.