Jakarta, Gesuri.id Juru Bicara dan Tokoh Muda PDI Perjuangan Seno Bagaskoro mengajak Indonesia belajar dari sejumlah negara yang berhasil memperkuat demokrasi melalui keberanian mengakui kesalahan masa lalu dan meminta maaf kepada korban pelanggaran hak asasi manusia.
Pernyataan itu disampaikan Seno dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (25/7). Menurutnya, pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa rekonsiliasi nasional hanya dapat dibangun apabila negara berani menghadapi sejarahnya sendiri.
Saya mencoba membandingkan dengan negara-negara lain yang pernah mengalami kediktatoran militer atau rezim otoriter. Hampir semuanya berani mengakui kesalahan, meminta maaf kepada korban, dan kemudian memperbaiki demokrasinya, kata Seno.
Ia mencontohkan Jerman yang secara terbuka mengakui berbagai kejahatan pada masa lalu dan menjadikan proses tersebut sebagai bagian dari pendidikan sejarah nasional. Menurutnya, sikap itu membuat demokrasi Jerman berkembang menjadi salah satu yang paling matang di dunia.
Seno juga menyinggung pengalaman Chile setelah berakhirnya pemerintahan Augusto Pinochet. Menurutnya, negara tersebut melakukan berbagai langkah untuk mengakui pelanggaran HAM serta memperbaiki sistem demokrasi agar kekerasan serupa tidak kembali terjadi.