Seno Sebut Kudatuli Mengajarkan Berpolitik Bukan Demi Jabatan, tetapi Demi Perjuangan

Saya melihat sejarah PDI Perjuangan itu tidak pernah mudah. Berkali-kali dizalimi, diposisikan dalam situasi sulit
Minggu, 26 Juli 2026 18:22 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Jakarta, Gesuri.id Juru Bicara sekaligus tokoh muda PDI Perjuangan Seno Bagaskoro menegaskan bahwa Tragedi Kudatuli menjadi pelajaran penting bagi generasi muda bahwa politik sejatinya merupakan ruang perjuangan, bukan sekadar jalan meraih jabatan maupun kekuasaan.

Hal itu disampaikan Seno dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang diselenggarakan PAC PDI Perjuangan Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (25/7).

Seno mengaku, meski tidak mengalami langsung peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996, ia merasakan semangat perjuangan para senior PDI Perjuangan melalui proses kaderisasi dan berbagai penugasan partai yang dijalaninya selama enam tahun terakhir.

Saya merasakan betul berpartai dari bawah, dari sayap partai di tingkat kota. Saya mengurus COVID-19, mengurus pemilu yang awalnya dianggap tidak mungkin menang tetapi akhirnya menang karena militansi. Dari situ saya belajar bahwa berpolitik bukan untuk ambisi, bukan untuk mengejar jabatan, bukan untuk bertanya kapan jadi apa atau dapat apa, ujar Seno.

Ia mengatakan, perjalanan sejarah PDI Perjuangan selalu diwarnai berbagai tekanan politik, mulai dari intimidasi, pengepungan, hingga berbagai upaya melemahkan partai. Namun, menurutnya, justru dari situ lahir karakter kader yang tangguh.

Baca juga :