Menembus Tirai Malam Kemayoran, Penerbangan Rahasia ke Jantung Fasisme

Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting akan terjadi. Tapi apa?
Sabtu, 08 Agustus 2026 00:29 WIB Jurnalis - Ali Imron

Angin malam Jakarta pada 8 Agustus 1945 berembus membawa ketegangan yang pekat. Di bawah ancaman serangan udara Sekutu yang bisa datang kapan saja, kota ini dipaksa bersembunyi dalam gelap. Lampu-lampu jalanan dipadamkan, dan jendela-jendela rumah ditutup rapat oleh tirai hitam. Aturan blackout (jam malam) diberlakukan sangat ketat oleh militer Jepang.

Namun, menjelang tengah malam, kesunyian itu dipecahkan oleh deru mesin pesawat yang memekakkan telinga di Lapangan Terbang Kemayoran. Di atas landasan pacu yang temaram, sebuah pesawat militer bermesin ganda milik balatentara Kekaisaran Jepang bersiap lepas landas.

Ini bukanlah penerbangan patroli biasa. Di dalam lambung pesawat besi yang dingin itu, duduk tiga tokoh yang memikul nasib jutaan nyawa di pundak mereka: Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat.Mereka bersiap menembus pekatnya malam menuju Dalat, sebuah kota di dataran tinggi Vietnam, memenuhi panggilan mendadak dari Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi Tentara Wilayah Selatan) Marsekal Hisaichi Terauchi.

Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting akan terjadi. Tapi apa? ungkap Sukarno dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adam (1966). Dikawal Kolonel Nakamura dan Miyosi sebagai penerjemah serta 20 perwira Jepang, ketiga tokoh bangsa itu berangkat menumpang pesawat ke Dalat Vietnam.


Hantu Hiroshima dan Undangan Misterius

Hanya dua hari sebelum malam keberangkatan ini, dunia telah berubah selamanya. Pada 6 Agustus, bom atom Little Boy sebereat 64 kilogram dijatuhkan di Hiroshima menewaskan 146 ribu jiwa. Meski berita kiamat kecil itu disensor habis-habisan oleh Gunseikanbu (Pemerintah Militer Jepang di Jawa), getaran kepanikan di kalangan perwira tinggi Jepang di Jakarta tidak bisa disembunyikan. Pada 8 Agustus, Uni Soviet ikut mengumumkan perang dan menginvasi Manchuria. Esoknya, 9 Agustus 1945, pesawat AS kembali menjatuhkan bom nuklir ke Nagasaki yang menewaskan 80 ribu jiwa.

Di tengah kepanikan itulah, panggilan ke Dalat turun. Misi ini sangat dirahasiakan, bahkan dari anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) lainnya.Termasuk dirahasiakan dari keluarga, karena sewaktu-waktu pesawat tersebut bisa saja disergap dan ditembaki pesawat pemburu pasukan Sekutu.

Bagi Sukarno, malam itu dipenuhi kabut misteri dan firasat. Mengapa mereka harus diterbangkan ribuan kilometer ke markas komando militer tertinggi Jepang di Asia Tenggara? Apakah ini jebakan? Mungkinkah Jepang yang sedang terdesak berniat mengasingkan mereka, memenggal kepala pergerakan nasional agar rakyat Indonesia tidak memberontak? Ataukah ini momen yang dijanjikan itupenyerahan kemerdekaan yang selama ini ditunda-tunda?

Baca juga :