Ikuti Kami

Meninggalkan Bara di Jakarta demi Embun di Dalat, Sebuah Paradoks Revolusi Agustus 1945

Ketika pesawat itu perlahan menghilang di balik awan malam, Jakarta tertinggal dalam sebuah kuali yang mendidih.

Meninggalkan Bara di Jakarta demi Embun di Dalat, Sebuah Paradoks Revolusi Agustus 1945
Sukarno dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia

Malam itu, 8 Agustus 1945, Jakarta adalah kota yang ditelan bayang-bayang. Di Lapangan Terbang Kemayoran, pesawat pengebom Jepang bermesin ganda menderu, membelah gulita, membawa Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat mengangkasa menuju Dalat, Vietnam.

Di dalam kabin bersuhu dingin dan berisik itu, Dwitunggal sedang merajut jalan diplomasi. Mereka terbang memenuhi panggilan Saiko Shikikan Marsekal Terauchi untuk mengunci kepastian batas wilayah negara dan mengesahkan transisi kemerdekaan secara birokrasi, tanpa memicu amuk militer Jepang.

Namun, di bawah sana—di gang-gang sempit, asrama mahasiswa, dan markas-markas pergerakan yang lembap di Jakarta—suhu udara terasa sangat berbeda. Kepergian Soekarno dan Hatta bak menyiram minyak ke atas bara api yang sudah lama disemai oleh Golongan Muda.

Ketika pesawat itu perlahan menghilang di balik awan malam, Jakarta tertinggal dalam sebuah kuali yang mendidih.

Bagi para pemuda yang berkumpul di Asrama Menteng 31 (kini Gedung Joang '45), diplomasi adalah bahasa kaum penjajah. Pemuda-pemuda revolusioner seperti Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni, dan Darwis hidup dengan darah yang mendidih. Mereka memiliki akses ke informasi yang tidak dimiliki oleh rakyat biasa.

Melalui jaringan radio gelap (radio gelombang pendek ilegal yang disembunyikan di bawah papan lantai atau di loteng-loteng), kelompok Sutan Sjahrir telah menangkap frekuensi radio luar negeri. Mereka mendengar kabar kiamat yang menimpa Hiroshima pada 6 Agustus. Mereka tahu bahwa mesin perang Fasisme Jepang sedang sekarat.

Dengan latar belakang informasi ini, kepergian Soekarno ke Dalat ditafsirkan oleh para pemuda sebagai sebuah "pengkhianatan taktik". "Mengapa Bung Karno harus repot-repot menemui jenderal fasis di luar negeri, di saat balatentara mereka sudah sekarat?" gerutu para pemuda dalam hati. 

Bagi Wikana dan kawan-kawannya, kemerdekaan yang diterima dari tangan Terauchi kelak hanyalah "kemerdekaan hadiah"—sebuah stempel yang akan membuat Sekutu memandang Indonesia sebagai negara boneka bikinan fasis, bukan entitas bangsa yang berdaulat secara murni.

Konspirasi di Bawah Bayang-Bayang Kempeitai
Selama tiga hari Soekarno dan Hatta berada di Vietnam, Jakarta tidaklah kosong dari aktivitas. Justru, ketidakhadiran kedua tokoh sentral ini menciptakan ruang vakum otoritas yang dimanfaatkan secara maksimal oleh Golongan Muda untuk menyusun kekuatan.

Di sudut-sudut kota, rapat-rapat rahasia digelar dalam tempo yang makin sering. Sjahrir terus memompa semangat kelompoknya, mendesak agar proklamasi dilakukan saat itu juga, secara radikal, anti-Jepang, dan tanpa campur tangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dianggap najis.

Para mahasiswa dari Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) dan Baperpi (Badan Persaudaraan Pelajar Indonesia) mulai menjalin komunikasi intensif dengan elemen bersenjata dari PETA (Pembela Tanah Air) dan Heiho yang memiliki sentimen anti-Jepang tinggi. Instruksi-instruksi pergerakan bawah tanah mulai menyebar dari mulut ke mulut: "Siapkan bambu runcing. Amankan rute-rute penting. Tunggu komando."

Ini adalah permainan kucing-kucingan yang mematikan dengan Kempeitai (Polisi Militer Jepang). Kempeitai mencium gelagat ketidakberesan di ibu kota, namun mereka juga berada dalam kepanikan internal akibat informasi kekalahan di Pasifik. Para pemuda berjudi dengan insting bahwa Jepang terlalu bingung untuk melakukan penangkapan massal.

Paradoks Dua Dunia

Ada ironi sejarah yang sangat tebal selama periode 8 hingga 14 Agustus 1945 ini. Di Dalat yang sejuk, embun diplomatik sedang disuling. Soekarno dan Hatta bermain catur intelektual dengan Marsekal Terauchi, memastikan bahwa wilayah Republik Indonesia tidak dipecah belah oleh faksi militer Jepang, dan mengamankan transisi kekuasaan secara de jure (hukum). Bagi mereka, menahan diri untuk tidak memprovokasi Jepang adalah satu-satunya cara mencegah Jakarta berubah menjadi lautan darah.

Sebaliknya, di Jakarta yang panas dan pengap, bara radikalisme sedang dikipasi. Para pemuda tidak peduli pada kerumitan geopolitik atau janji wilayah. Mereka hanya peduli pada satu kata, Merdeka. Dan kemerdekaan itu harus direbut dengan tangan yang berdarah, bukan dengan tangan yang berjabat dengan Marsekal Jepang.

Ketika roda pesawat Soekarno dan Hatta akhirnya kembali menyentuh landasan Kemayoran pada 14 Agustus, mereka tidak pulang ke rumah yang tenang. Mereka pulang ke rumah yang sudah siap terbakar.

Soekarno mencoba meredam suasana dengan metafora "Sebelum jagung berbunga, Indonesia sudah merdeka." Namun bagi Wikana, Chaerul Saleh, dan barisan pemuda Menteng 31, metafora jagung itu terlalu lambat. Mereka tidak ingin menunggu jagung berbunga; mereka ingin ladang itu dipanen saat itu juga.

Kepergian ke Dalat—yang dimaksudkan Soekarno untuk mengamankan fondasi negara—ternyata melahirkan gelombang kejut yang tak terduga. Rasa tidak sabar dan ketidakpercayaan yang ditumpuk oleh Golongan Muda selama Soekarno pergi ke Vietnam kelak meledak dua hari kemudian, berpuncak pada penculikan Sang Dwitunggal ke Rengasdengklok.

Sejarah kemerdekaan Indonesia pada akhirnya bukan hanya cerita tentang negosiasi pintar di Dalat atau amarah meledak-ledak di Menteng 31. Kemerdekaan adalah perpaduan yang kacau balau namun sempurna dari keduanya: embun rasionalitas dari Golongan Tua yang dipaksa mendidih oleh bara api Golongan Muda.

Quote