Ikuti Kami

Menembus Tirai Malam Kemayoran, Penerbangan Rahasia ke Jantung Fasisme

Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting akan terjadi. Tapi apa?

Menembus Tirai Malam Kemayoran, Penerbangan Rahasia ke Jantung Fasisme
Radjiman Wedjodiningrat salah satu tokoh bangsa yang ikut pergi ke Dalat Vietnam

Angin malam Jakarta pada 8 Agustus 1945 berembus membawa ketegangan yang pekat. Di bawah ancaman serangan udara Sekutu yang bisa datang kapan saja, kota ini dipaksa bersembunyi dalam gelap. Lampu-lampu jalanan dipadamkan, dan jendela-jendela rumah ditutup rapat oleh tirai hitam. Aturan blackout (jam malam) diberlakukan sangat ketat oleh militer Jepang.

Namun, menjelang tengah malam, kesunyian itu dipecahkan oleh deru mesin pesawat yang memekakkan telinga di Lapangan Terbang Kemayoran. Di atas landasan pacu yang temaram, sebuah pesawat militer bermesin ganda milik balatentara Kekaisaran Jepang bersiap lepas landas.

Ini bukanlah penerbangan patroli biasa. Di dalam lambung pesawat besi yang dingin itu, duduk tiga tokoh yang memikul nasib jutaan nyawa di pundak mereka: Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat. Mereka bersiap menembus pekatnya malam menuju Dalat, sebuah kota di dataran tinggi Vietnam, memenuhi panggilan mendadak dari Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi Tentara Wilayah Selatan) Marsekal Hisaichi Terauchi.

"Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting akan terjadi. Tapi apa?" ungkap Sukarno dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adam (1966).  Dikawal Kolonel Nakamura dan Miyosi sebagai penerjemah serta 20 perwira Jepang, ketiga tokoh bangsa itu berangkat menumpang pesawat ke Dalat Vietnam. 


Hantu Hiroshima dan Undangan Misterius

Hanya dua hari sebelum malam keberangkatan ini, dunia telah berubah selamanya. Pada 6 Agustus, bom atom "Little Boy" sebereat 64 kilogram dijatuhkan di Hiroshima menewaskan 146 ribu jiwa. Meski berita kiamat kecil itu disensor habis-habisan oleh Gunseikanbu (Pemerintah Militer Jepang di Jawa), getaran kepanikan di kalangan perwira tinggi Jepang di Jakarta tidak bisa disembunyikan. Pada 8 Agustus, Uni Soviet ikut mengumumkan perang dan menginvasi Manchuria. Esoknya, 9 Agustus 1945, pesawat AS kembali menjatuhkan bom nuklir ke Nagasaki yang menewaskan 80 ribu jiwa. 

Di tengah kepanikan itulah, panggilan ke Dalat turun. Misi ini sangat dirahasiakan, bahkan dari anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) lainnya. Termasuk dirahasiakan dari keluarga, karena sewaktu-waktu pesawat tersebut bisa saja disergap dan ditembaki pesawat pemburu pasukan Sekutu. 

Bagi Sukarno, malam itu dipenuhi kabut misteri dan firasat. Mengapa mereka harus diterbangkan ribuan kilometer ke markas komando militer tertinggi Jepang di Asia Tenggara? Apakah ini jebakan? Mungkinkah Jepang yang sedang terdesak berniat mengasingkan mereka, memenggal kepala pergerakan nasional agar rakyat Indonesia tidak memberontak? Ataukah ini momen yang dijanjikan itu—penyerahan kemerdekaan yang selama ini ditunda-tunda?

Tiga Watak di Dalam Kabin Gelap

Di dalam kabin pesawat pengebom yang dialihfungsikan menjadi pesawat angkut itu, tidak ada kenyamanan. Suara baling-baling menderu begitu keras hingga berbicara pun nyaris mustahil. Lampu kabin dimatikan sepenuhnya agar pesawat tidak menjadi sasaran empuk meriam penangkis udara atau pesawat tempur Sekutu.

Ketiga tokoh itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, menampilkan tiga watak yang berbeda dalam menghadapi maut. dr. Radjiman Wedyodiningrat, yang saat itu sudah berusia 66 tahun, duduk dengan ketenangan seorang sesepuh. Mantan Ketua BPUPKI ini adalah jangkar spiritual rombongan. Mengingat usianya yang sepuh dan kondisi fisiknya, menempuh penerbangan militer di tengah kancah perang adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa besar.

Mohammad Hatta, sang rasionalis, mungkin sedang menghitung probabilitas. Dengan insting diplomasi dan kehati-hatiannya, Hatta tahu bahwa di Dalat nanti, mereka tidak boleh hanya sekadar mengangguk pada Jepang. Mereka harus mengunci batas wilayah Indonesia agar mencakup seluruh bekas Hindia Belanda.

Sukarno, sang orator yang biasanya meledak-ledak, malam itu lebih banyak diam. Ia sadar, begitu pesawat ini lepas landas, ia meninggalkan para pemuda di Jakarta yang darahnya sedang mendidih. Ia harus kembali membawa hasil yang nyata, atau revolusi berdarah akan pecah di jalanan.

Menantang Maut di Atas Laut China Selatan

Penerbangan malam itu pada hakikatnya adalah sebuah misi bunuh diri. Pada Agustus 1945, Angkatan Udara Kekaisaran Jepang sudah hancur lebur. Udara di atas Asia Tenggara, terutama Laut China Selatan, telah dikuasai sepenuhnya oleh pesawat-pesawat pemburu Sekutu (Amerika Serikat dan Inggris).

Jika radar Sekutu menangkap pergerakan pesawat militer Jepang ini, mereka tidak akan peduli siapa penumpang di dalamnya. Pesawat itu akan langsung ditembak jatuh hingga berkeping-keping.

Pesawat perlahan membelah keheningan Kemayoran, moncongnya mendongak menembus awan gelap. Untuk menghindari patroli udara Sekutu, pilot Jepang harus menerbangkan pesawat dengan rute berliku. Mereka tidak bisa terbang langsung ke Vietnam, melainkan harus transit di Singapura (yang saat itu bernama Syonan-to), lalu melanjutkan perjalanan ke Saigon, sebelum akhirnya mencapai dataran tinggi Dalat.

Di setiap detik yang berdetak di ketinggian ribuan kaki tersebut, sejarah Indonesia digantungkan pada seutas benang tipis. Jika sebuah peluru Sekutu menembus tangki bahan bakar pesawat malam itu, tidak akan pernah ada Sukarno yang membacakan Proklamasi pada 17 Agustus. Tidak akan ada Hatta yang merancang tata kelola birokrasi awal. Republik ini mungkin akan lahir prematur dan tercabik-cabik oleh perang saudara.

Pesawat terus melaju membelah malam. Di bawah mereka, terhampar lautan gelap yang menyimpan misteri penutup Perang Pasifik. Sementara di depan mereka, di ujung perjalanan menuju Dalat, nasib sebuah bangsa seolah sedang menanti untuk dijemput.

Quote